DIMENSI HISTORIS DALAM SEGMENTASI MASYARAKAT SASAK

Oleh: Prof. Mahsun

Merupakan suatu kenyataan yang bersifat universal bahwa suatu kelompok masyarakat tertentu tidak akan pernah hadir dalam wujud yang homogin, melainkan selalu tersegmentasi ke dalam beberapa segmen baik secara geografis maupun sosiologis, yang masing-masing mempunyai ciri pembeda satu sama lain. Salah satu ciri pembeda tersebut adalah bahasa, meskipun secara dialektologis mereka masih merupakan penutur sebuah bahasa yang sama, hanya dialeknya yang berbeda.  Namun, patut ditambahkan bahwa variasi dialektal yang terjadi dalam bahasa manapun di dunia tidaklah muncul secara serta merta dalam satu kurun waktu tertentu, melainkan melalui proses historis yang melibatkan waktu secara evolutif. Oleh  karena itu, penjejakan segmentasi masyarakat Sasak yang dilakukan dengan pendekatan dialektologis dalam tulisan ini lebih ditekankan pada dimensi historis, dalam arti faktor-faktor historis (termasuk politis) apakah yang menyebabkan masyarakat Sasak tersegmentasi baik secara geografis maupun secara sosiologis dengan memanfaatkan evidensi (bukti) kebahasaan.

Masyarakat Sasak, secara geografis berbeda antara mereka yang mendiami sebagian besar pulau Lombok bagian barat,  bagian tengah, dan sedikit di bagian timur dengan mereka yang mendiami daerah pegunungan sebelah utara Lombok Barat atau daerah pinggiran Lombok Timur. Selain itu, secara sosiologis masyarakat ini paling tidak terpilah ke dalam dua segmen, yaitu segmen masyarakat biasa, yang disebut dengan istilah kelompok Jajar Karang dan segmen masyarakat bangsawan, yang disebut dengan kelompok Menak. Masing-masing segmen, seperti disebutkan di atas, memiliki ciri kebahasaan yang membedakan satu dengan lainnya. Segmen yang sebagian besar mendiami pulau Lombok bagian barat, tengah, dan sedikit di bagian timur tersebut, yang antara lain mendiami daerah pemukiman Kebon Ayu, Karang Pule, Kuripan, Pelangan, Sekotong, Baleke, Kawo, Rembitan, Pejanggek, Penujak, Sintung, Dasan Lekong, Padamara, Selebung Ketangga, Sapit, dll. memiliki ciri kebahasaan yang sama dengan bahasa Bali, khususnya dalam merealisasikan vokal Purba Austronesia *a menjadi /e/ pada posisi akhir dalam sebuah kata, seperti pada mate ‘mata’, mame ‘laki-laki’, ape ’apa’; sedangkan segmen yang sebagian besar mendiami daerah pegunungan atau daerah pinggiran di bagian timur, seperti Bayan, Desa Anyar, Selengan, Sukadana, Gondang, Bentek, Rempek, Sokong, Apit Aik, Kuang Berora, Dasan Lekong, Gereneng, Jerowaru, Sembalun Lawang, Sembalun Bumbung dll. merealisasikan vokal bahasa purba yang menjadi induk bahasa Sasak tersebut sebagaimana adanya, yaitu sebagai /a/, seperti pada kata mata ‘mata’, mama ‘laki-laki’, apa ‘apa’. Adapun sebagian kecil penutur yang terdapat di bagian timur dan tengah pulau Lombok, seperti mereka yang mendiami daerah pemukiman Selaparang, Ketangga, Kerumut, Pohgading, Korleko, Mamben Lauk, Kota Raja, Pengadang, Lendang Nangka, Pringga Jurang, Jenggik, Langko dll. merealisasikan vokal bahasa purba tersebut sebagai vokal /e/ tidak hanya pada  lingkung silabe terakhir yang bersifat tertutup tetapi juga pada silabe penultima (silabe kedua dari silabe akhir), sehingga kata-kata itu menjadi mete ‘mata’, meme ‘laki-laki’, dan epe ‘apa’.

Dari sudut pandang dialektologi diakronis dan ilmu perbandingan bahasa (linguistik historis komparatif), bahwa sebuah kata bahasa purba tidak akan diturunkan dalam dua atau lebih bentuk turunan. Artinya sebuah bentuk bahasa purba hanya memiliki satu bentuk turunannya, sedangkan bentuk lain yang muncul itu haruslah dipandang sebagai bentuk hasil inovasi, baik secara internal maupun eksternal (pungutan atau pengaruh dari bahasa lain). Adanya tiga bentuk turunan dari satu bentuk bahasa purba, seperti terlihat pada kata yang digunakan untuk merealisasikan makna ‘mata’ dan sejenisnya, berdasarkan sudut pandang teoretis di atas, menuntun ke arah pengambilan simpulan bahwa di antaranya terdapat satu bentuk yang merupakan bentuk asli, sedangkan bentuk lainnya merupakan hasil inovasi (pembaharuan).

Secara metodologis bahwa yang disebut bentuk asli adalah bentuk yang lebih menyerupai atau sama dengan bentuk dalam bahasa purbanya. Oleh karena itu, bentuk asli dari bahasa Sasaknya adalah semua bentuk yang merealisasikan vokal bahasa purba *a menjadi /a/ pada lingkungan linguistik di atas, sedangkan dua bentuk lainnya merupakan hasil inovasi.

Hal yang menarik dari kedua bentuk yang merupakan hasil inovasi di atas adalah berkaitan dengan pertanyaan mana di antara kedua bentuk itu yang merupakan bentuk yang lebih kemudian muncul dari yang lainnya. Pertanyaan ini menuntun ke arah penjejakan proses tersegmentasinya penutur bahasa Sasak secara historis.

Berangkat dari asumsi dasar penjejakan unsur asli dan unsur inovasi dalam pandangan dialektologi diakronis dan linguistik historis komparatif, yang memandang  bahwa bahasa cenderung berkembang dari bentuk yang lebih sederhana ke bentuk yang lebih kompleks, khususnya pada bidang fonologi (bunyi), maka bentuk mate ‘mata’     adalah bentuk yang lebih dulu muncul dari bentuk mete ‘mata’ dan sejenisnya, karena pada bentuk yang pertama itu lebih sederhana perubahannya (hanya melibatkan satu bunyi) dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada bentuk yang kedua (yang melibatkan perubahan pada dua buah bunyi). Oleh karena itu, bentuk mete merupakan bentuk yang diturunkan melalui proses asimilasi regresif, bunyi /e/ pada posisi akhir pada kata mate mempengaruhi bunyi /a/ pada silabe sebelumnya, sehingga bunyi /a/ tersebut berubah menjadi bunyi yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Adapun bentuk mate itu sendiri adalah bentuk yang diturunkan dari bentuk  Austronesia Purba (Proto-Austronesia)  yang direkonstruksi oleh Robert Blust dengan bentuk *mata ‘mata’ dengan perubahan pada silabe akhir. Patut ditambahkan bahwa perubahan vokal /a/ pada posisi akhir menjadi vokal lainnya seperti /o/, /e/ oleh Raas disebut sebagai ciri bahasa-bahasa kelompok Austronesia Barat seperti dapat dilihat pada bahasa Jawa, Bali, Betawi, Melayu Berunei, dan Malysia. Dengan demikian, urut-urutan pembentukan bentuk tersebut adalah dari  mata menjadi mate dan kemudian menjadi mete. Secara historis pandangan ini mengimplikasikan bahwa bentuk mata adalah bentuk yang lebih tua usianya dibandingkan dengan kedua bentuk lainnya (mate dan mete), sedangkan bentuk mate lebih tua usianya dibandingkan dengan bentuk mete; dan hal yang serupa terjadi pada kata-kata (bentuk-bentuk) yang sejenis lainnya.

Dalam kaitan dengan bahasa Sasak, persoalannya menjadi menarik oleh karena munculnya tiga bentuk yang digunakan untuk merealisasikan satu makna. Apabila bentuk yang satunya dapat diidentifikasi sebagai bentuk asli bahasa Sasak, dalam hal ini bentuk yang menggunakan /a/,  maka persoalannya bagimanakah proses terbentuknya dua bentuk padanan lainnya.

Bentuk yang menggunakan /e/ pada posisi akhir (mate, mame, ape dll.) merupakan bentuk yang muncul karena hasil inovasi eksternal. Dalam hal ini pengaruh dari bahasa Bali. Alasan yang dapat diajukan sehubungan dengan hal ini adalah di samping karena ciri kebahasaannya sama dengan ciri kebahasaan dalam bahasa Bali, juga antara Bali dan Lombok pernah terjadi kontak yang berupa hubungan penguasaan salah satu kerajaan di Bali terhadap kerajaan yang ada di pulau Lombok, dalam hal ini penguasaan Kerajaan Karang Asem, Bali atas Kerajaan Selaparang, yang terjadi sekitar abad kedelapan belas (1723). Dan, yang lebih menarik bahwa daerah sebaran pengaruh bahasa Bali ini bersesuaian dengan arah pergerakan kolonialisasi kerajaan Karang Asem, yaitu menyebar dari arah barat ke timur pulau Lombok.

Berdasarkan pandangan di atas, secara  politis, penaklukan Kerajaan Karang Asem atas kerajaan-kerajaan yang ada di Lombok telah dilegitimasi dalam bentuk intevensi cultural. Dalam hal ini, bahasa (sebagai salah satu unsur budaya) yang menjadi identitas penakluk diintorodusir menjadi bahasa masyarakat yang tertakluk sebagai lambang ketaklukannya. Namun, secara kultural pula, disadari oleh Selaparang, sebagai salah satu kerajaan terbesar di Lombok, yang mencapai kejayaannya sekitar abad ke 18, bahwa kolonialisasi Karang Asem tidak hanya kolonialisasi Ekonomi dan politik, tetapi juga kolonialisasi kultural, dan karena itu Selaparang pun balik mempertahankan identitas kulturalnya sebagai sebuah kerajaan yang berdaulat dengan tidak mengikuti sepenuhnya kultur penakluk, malainkan melakukan inovasi internal dengan memanfaatkan bentuk yang merupakan pengaruh budaya Bali (baca bahasa Bali). Dari sinilah muncul bentuk-bentuk kebahasaan semacam mete, meme, dan epe tersebut. Hal ini dilakukan Selaparang sebagai tanda masih eksisnya kerajaan itu, seperti ditunjukkan dalam sejarah bahwa Kerajaan Selaparang (dengan bantuan bala tentara yang dikirim dari Kesultanan Sumbawa) mampu memukul mundur serangan Kerajaan Karang Asem. Patut dicatat pula, dengan analogi yang sama, munculnya sarana ibadah yang berupa mesjid atau surau sehingga karenanya pulau Lombok dikenal pula sebagai Pulau Seribu Mesjid haruslah dipandang sebagai wujud legitimasi akan eksistensi masyarakat Sasak di tengah galaunya penaklukan Karang Asem yang cenderung bermuatan kolonialisasi kultural, di samping ekonomi dan politis. Artinya, mesjid yang banyak bermunculan itu merupakan refleksi dari ungkapan rasa eksistensi masyarakat Sasak yang secara kultural banyak dipengaruhi oleh agama Islam dan sekaligus menjadi tandingan dari bentuk budaya ritual masyarakat Bali yang banyak membangun tempat-tempat ibadah secara individual di tempat kediaman masing-masing atau di tengah-tengah daerah persawahan.

Dengan demikian, pengaruh historis dan politis yang terjadi pada sekitar abad ke-18 (1723) itu telah membuat tersegmennya masyarakat Sasak secara geografis atas tiga segmen yaitu pertama, segmen yang sepenuhnya masih mempertahankan kemurnian budaya Sasak (baca bahasa Sasak), yang karena itu mereka rela mengasingkan diri ke daerah-daerah pegunungan dan pesisir pulau Lombok, kedua, segmen masyarakat yang sepenuhnya takluk pada pengaruh budaya pendatang, yang umunya mereka tersebar dari arah barat ke timur pulau Lombok, dan ketiga, segmen masyarakat yang semulanya telah terpengaruh budaya kolonial namun bangkit menyatakan identitasnya dengan melakukan inovasi kultural, yang umumnya mereka menyebar di daerah pemukiman sekitar Selaparang dan sebagian kecil di wilayah Lombok Tengah.

Selain segmentasi secara geografis, akibat dari kolonialisasi Kerajaan Karang Asem itu pula telah membuat masyarakat Sasak tersegmentasi atas dua kelompok, yaitu kelompok Jajar Karang dan kelompok Menak, yang juga secara linguistik ditandai oleh bahasa yang mereka gunakan. Untuk segmen masyarakat yang disebut kelompok Menak, di samping mengenal bahasa Sasak Jamak, juga mengenal bahasa Sasak Halus, yang keseluruhannya merupakan hasil inovasi eksternal atau pinjaman dari bahasa lain. Berbeda dengan segmen masyarakat yang disebut kelompok Jajar Karang yang hanya mengenal bahasa Sasak Jamak. Sangat menarik untuk diungkapkan di sini, bahwa pada daerah yang merealisasikan vokal purba Austronesia *a menjadi vokal /a/ tidak mengenal kosa kata bahasa Sasak Halus, sedangkan pada daerah pakai bahasa Sasak yang merealisasikan vokal tersebut sebagai vokal /e/, setidak-tidaknya penuturnya dapat memahami kosa kata bahasa Sasak Halus. Dengan kata lain, sistem tingkat tutur (levels of speech), yang juga mencerminkan stratifikasi sosial masyarakat Sasak, dan merupakan pengaruh sistem stratifikasi sosial pada masyarakat Bali dengan sistem kastanya yang juga dimarkahi keberadaannya dengan sistem kebahasaan tersendiri, hanya dikenal pada daerah pakai bahasa Sasak yang mendapat pengaruh dari bahasa Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kolonialisasi Kerajaan Karang Asem telah berdampak pada tersegmentasinya masyarakat Sasak baik secara geografis maupun secara sosiologis.

Hal lain yang patut diungkapkan, bahwa sedemikian intensnya pengaruh penguasaan kerajaan Karang Asem terhadap kerajaan yang terdapat di pulau Lombok ini tercermin pula dari intensifnya variasi dialektal yang terjadi dalam bahasa Sasak. Dari 90 buah desa (daerah pemukiman) penutur bahasa Sasak yang diteliti, secara linguistis, tidak ditemukan satu pun desa yang tidak terisolir dari desa lainnya. Artinya, setiap desa pemakaian bahasa Sasak memiliki ciri-ciri kebahasaan tersendiri, dan bahkan lebih jauh dari itu, antara tempat pemukiman dalam satu desa yang hanya berbatasan jalan saja sudah menunjukkan tingkat perbedaan bahasa. Berbeda dengan desa-desa pemakaian bahasa Sumbawa, misalnya yang masih dapat ditemukan beberapa desa yang memperlihatkan tingkat homoginitas pemakaian bahasa yang begitu tinggi.

Labih jauh dari itu, apabila bahasa dapat dijadikan alat pengungkapan akan jati diri dari kelompok penuturnya, maka fenomena dialektal yang sedemikian rumit dalam bahasa Sasak ini sebenarnya, secara internal, mencermin adanya friksi sosial yang begitu tinggi, yang dalam batas-batas tertentu dapat menjadi pemicu munculnya konflik internal.