ETNIS SASAK DALAM CERMIN BAHASA: SEBUAH RENUNGAN INTROSPEKTIF

Oleh: Prof. Mahsun

1.      Pendahuluan 

Salah satu hasil budaya manusia yang sangat penting bagi keberadaan dan pemarkah keberadaannya  adalah bahasa. Melalui bahasa, manusia tidak hanya mengekspresikankan pikirannya, yang nota bene pikiran itulah yang membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya, tetapi juga melalui bahasa itu pula manusia mengkonseptualisasikan dan menafsirkan dunia yang melingkupinya. Pendeknya, dalam bahasa terwadahi bagaimana manusia berelasi tidak hanya dengan alam tetapi juga dengan Sang Pencipta Alam semesta itu sendiri. Oleh karena itu, kajian bahasa, khususnya semantik-Antropologi, berkompetensi terhadap kajian ihwal keberadaan manusia pemilik bahasa itu sendiri.

Dalam konteks itulah tulisan ini akan mencoba menguak salah satu sisi kehidupan dari salah satu komunitas terbesar di Provinsi ini, dalam hal ini komunitas Sasak. Tentunya patut untuk ditekankan bahwa, kajian ini mengkhususkan diri pada sistem keunda-usukan (tingkat tutur) yang terdapat dalam bahasa Sasak yang dikaitkan dengan salah satu prilaku sosial masyarakat pemiliknya. Sistem yang dimaksudkan di sini tidak semata-mata terkait dengan pemaknaan unsur leksikonnya tetapi lebih terkait dengan sistem pembentukannya. Meskipun cakupannya relatif kecil, karena hanya menyangkut salah satu aspek kebahasaan, namun hasil kajian ini patut menjadi bahan renungan. Dikatakan demikian, karena bukti kebahasaan akan dikaitkan dengan bukti historis yang r elevan bagi penguatan argumentasi yang diajukan.

2.       Sistem Keunda-usukan dan Fenomena Relasi Kemanusiaan

Apabila dalam karya linguistik yang umum kita temui, pembahasaan ihwal keunda-usukan lebih terfokus pada pembahasan kemaknaan yang terdapat pada unsur leksikal dari kata-kata tersebut, yang lalu dikaitkan dengan stratifikasi sosial yang terjadi dalam masyarakat pemiliknya, maka kali ini pembahasannya menjadi lebih menarik, karena masalah kemaknaan menjadi unsur yang tidak terlalu signifikan dan dominan untuk dibicarakan, tetapi yang lebih diutamakan adalah sistem pembentukannya.

Dalam bahasa Sasak, sebagaimana dalam bahasa lain, tidak termasuk bahasa Sumbawa yang lebih berkerabat dengannya, dikenal beberapa kata yang menunjukkan relasi sosiolinguistik pemakaiannya. Misalnya dikenal kata: mensare ‘tidur’, cangkem ‘mulut’, tendes ‘kepala’, mergi ‘pergi’, ninggal ‘meninggal’, kiat ‘tertawa’dll. yang oleh penuturnya disebut sebagai kosa kata halus, yang dipertentangkan dengan kosa kata “lumrah” (jamaq = min halus) masing-masing: tindoq, tÉdÉk/ biwih, ulu/Étak, lampaq/ lEkaq, dan rereq. Kosa kata halus ini lazimnya digunakan dalam bertutur kelompok Menak atau kelompok Jajar Karang yang mitra wicaranya adalah kelompok Menak. Yang menarik dari dikotomi halus dan jamaq dalam bahasa Sasak ini bukannya ihwal makna dan tempat pemakaian kosa kata tersebut, tetapi lebih terkait dengan proses pembentukan (asal) kosa kata itu sendiri. Di samping itu, distribusi pemakaian kosa kata tersebut yang hanya pada lingkungan tertentu. (Dahulunya, akan menjadi bahan tertawaan kalau kosa kata halus ini digunakan sebagai alat komunikasi di dalam kalangan Jajar Karang).

Secara etimologis, semua kosa kata halus yang terdapat dalam bahasa Sasak merupakan hasil inovasi eksternal, jadi merupakan kata pinjaman dari bahasa lain. Kita ambil contoh kata-kata di atas. Kata mensare ‘tidur’, cangkem ‘mulut’, tendes ‘kepala’ merupakan kosa kata yang berasal dari bahasa Jawa - Bali, kosa kata mergi ‘pergi’, ninggal ‘meninggal’ adalah kosa kata yang berasal dari bahasa Melayu, dan kosa kata kiat ‘tertawa’ adalah kosa kata yang berasal dari bahasa Sumbawa Dialek Jereweh. Yang menarik untuk dipertanyakan dari fenomena ini adalah mengapa Etnis Sasak meminjam kosa kata bahasa lain, dan secara sosiologis kosa kata pinjaman tersebut ditempatkan pada khierarkhi sosial yang lebih tinggi, dan dalam pada itu kosa kata bahasanya sendiri ditempatkan pada posisi Jamaq ? Adakah fenomena penempatan secara sosiologis kosa kata pinjaman itu pada khierarkhi yang tinggi sebagai fenomena pemberian penghargaan yang lebih tinggi pada sesuatu  yang datang dari luar, kurang percaya diri (sebab kalau lebih percaya diri, maka kebutuhan akan kosa kata halus dapat diciptakan melalui pemanfaatan potensi yang ada dalam bahasa itu sendiri, secara internal, sebagaimana masayarakat Jawa yang menciptakan kosa kata halus melalui inovasi internal), atau perasaan  rendah diri. Tuntunan ke arah alternatif jawaban yang pertama dapat diberikan oleh kenyataan bahwa dari kosa kata yang diangkat sebagai kosa kata halus tersebut, sebagiannya merupakan kosa kata yang tidak halus (Jamaq) pada bahasa asalnya, seperti kata cangkem ‘mulut’dan tendes ‘kepala’, yang masing-masing dalam bahasa Jawa digunakan sebagai kosa kata minhalus (jamaq), yang dapat saja membangkitkan kemarahan mitra wicara apabila kosa kata itu digunakan untuk merujuk bagian tubuh yang diacu oleh kata tersebut. Begitu pula kata kiat  (bahasa Sumbawa) merupakan kata yang tidak memiliki hierarkhi secara sosiolinguistis. Rupanya, Etnis Sasak menganggap apa pun yang datang dari luar merupakan sesuatu yang bernilai tinggi (perhatikan penamaan ambÉn jawâ yang dikontraskan dengan ambÉn jamaq: yang menyiratkan sesuatu yang datang dari luar  (Jawa) merupakan sesuatu yang lebih bernilai).

Perilaku yang memberikan penghargaan yang lebih tinggi pada sesuatu  yang datang dari luar, kurang percaya diri, atau perasaan  rendah diri menurut saya merupakan hasil bentukan historis, khususnya kolonialisasi. Untuk menjelaskan hal ini ada baiknya kita mundur sejenak ke belakang, mencoba menyoroti sistem kolonialisasi yang terjadi terhadap etnis Samawa dan Sasak, yang nota bene kedua etnis ini secara linguistis merupakan etnis-etnis yang berasal dari sebuah nenek moyang yang sama (kaitkan dengan sebuah Protobahasa Sasak-Sumbawa). Seharusnya, kedua etnis ini memiliki watak dasar yang sama, namun karena faktor kolonialisasi yang berbeda, sebagai faktor eksternal yang juga berperan dalam pembentukan watak sebuah komunitas (baik secara individual maupun berkelompok), telah membuat kedua etnis yang seasal ini menjadi etnis yang secara psikologis berbeda. Etnis Sasak dikuasai oleh kerajaan yang datang dari Barat (Bali), sedangkan Etnis Samawa dikuasai oleh kerajaan yang datang dari arah timur (kerajaan Bugis). Kedua etnis “Penjajah” ini memiliki cara yang berbeda dalam penaklukannya. Apabila Kerajaan Bugis, kolonialisasi yang dilakukannya lebih terkait dengan siar Islam, sehingga persyaratan pengakuan akan ketaklukan didasarkan pada kemauan/ penerimaan etnis yang tertakluk itu akan agama yang dibawa (Raja Sumbawa hanya diminta mengucapkan Dua Kalimah Syahadat dan semua adat istiadat setempat tidak dirusak), maka Kerajaan Karang Asem, persyaratan pengakuan ketaklukan didasarkan pada kesediaan raja yang tertakluk menerima segala bentuk adat istiadat yang dibawa Sang Kolonial, termasuk dalam sistem stratifikasi sosial yang dimarkahi dengan bahasa, yang semulanya tidak dikenal masyarakat Sasak. Singkatnya, kolonialisasi terhadap Etnis Sasak oleh Kerajaan dari Bali benar-benar memporakporandakan sistem budaya, jati diri etnis yang tertakluk.   

Bukti lain, yang berkaitan dengan sikap memberi penghargaan yang lebih pada yang datang dari luar, misalnya tampak pula dalam tatanan hubungan perkawinan. Apabila seorang bangsawan  (kelompok Menak) kawin  dengan orang yang nonbangsawan (bukan Menak), maka orang tersebut akan menanggalkan derajad kebangsawanan. Tentu patut dicatat, bahwa hal ini terjadi, jika perkawinan masih dalam lingkup etnis yang sama (etnis Sasak). Kondisi budaya ini dikenal dengan istilah  Teteh/ Neneteh yang dikontraskan dengan konsep Negak, yaitu pemberian derajad kebangsawanan pada kelompok non Menak, yang berasal dari orang di luar etnis Sasak, yang kawin dengan seorang lelaki keturunan Menak.

Dalam alam kemerdekaan, perilaku yang terbentuk secara terpaksa pada etnis Sasak, dapat tumbuh secara berseberangan. Kesadaran akan kebebasan dan kemerdekaan telah memicu semangat etnis yang pernah “tertindas” untuk bangkit menyatakan eksistensinya. Secara ekstrim, pernyataan akan eksistensi, kejatian tersebut, telah membuat etnis Sasak menjadi protek terhadap segala sesuatu yang datang dari luar, yang secara optimal perilaku ini dapat memunculkan perasaan etnis-sentris (bandingkan dengan komunitas Jepang dan Jerman yang menjadi protek terhadap hal-hal yang datang dari luar, karena pada perang dunia kedua, kejatiannya telah diporakporandakan). Segala sesuatu (kepentingan) akan selalu diidentifikasikan dengan kepentingan dirinya. Hal ini telah memacu etnis lain yang ada di segmen nasional kita untuk bersikap sama, yang pada gilirannya menjadi salah satu biang keladi munculnya konflik internal di NTB.

 3.     Catatan Penutup: Implikasi Sistem Keunda-usukan bagi Jati Diri Ke-NTB-an  

Apabila kita mencoba melakukan renungan introspektif-reflektif dan mencoba menanyakan ihwal jati diri kita sebagai komunitas segmental (baca komunitas NTB) dari sebuah komunitas besar bangsa ini, maka kita akan terperangah, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Hal ini akan menjadi semakin sulit untuk dijawab manakala kita mengaitkan pertanyaan tersebut pada sebuah tuntutan akan sebuah sosok identitas yang kedalam mempersatukan kita sebagai sebuah komunitas segmental dan keluar membedakan kita dengan komunitas segmental lainnya dari bangsa ini. Hal ini semakin dilegitimasi oleh pluralisme budaya yang ada di NTB, yang pada titik kritisnya sering dijadikan alat legitimasi kepelbagaian dan keberbedaan sub-sub entitas yang membentuk entitas segmental tersebut. Bahasa, misalnya, yang sering dan memang satu-satunya lambang identitas sebuah komunitas yang sangat jelas dan transparan membedakan satu komunitas dengan komunitas lainnya, memperlihatkan pluralisme tersebut. Di NTB,  paling tidak terdapat tiga bahasa besar, dengan jumlah pendukungnya relatif sama besarnya. Ada bahasa Sasak yang menandai keberadaan etnis Sasak, bahasa Samawa yang menjadi ciri keberadaan etnis Samawa, dan bahasa Mbojo yang menjadi ciri keberadaan etnis Mbojo.

Dalam sebuah rumah (dengan beranalogi pada sebuah keluarga dalam satu rumah tangga) yang memiliki tiga orang anak, yang merasa sama besar dan sama kuatnya akan menjadi rentan terhadap konflik kepentingan yang bersifat internal, misalnya dalam hal kepemilikan terhadap benda-benda yang ada di dalam rumah, bahkan termasuk rumah itu sendiri. Konflik internal ini, sebenarnya tidak hanya berawal dari anak-anak tersebut, yang karena salah satu di antaranya mengklaim diri sebagai pemilik lalu yang lain ikut sama-sama mengkalim diri sebagai pemilik, tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor eksternal diri anak, misalnya peran orang tua atau orang lain yang berada di luar keluarga itu. Kondisi inilah yang membuat entitas NTB menjadi rapuh, tidak jelas identitas dirinya. Dalam pada itu, lalu menjadi rentan terhadap intervensi dari luar dan memang hanya intervensilah yang mampu menentramkan kondisi.

Ada dua fenomena yang menarik untuk disimak dari keberadaan orang-orang NTB secara individual. Apabila mereka bermain di luar NTB, ada kecenderungan mereka dapat tampil menjadi sosok individu yang unggul, paling tidak punya daya saing dan diperhitungkan, sementara mereka yang bermain dari dan di kandang sendiri sulit sekali mendapat pengakuan secara nasional. Persoalannya, adakah mereka yang bermain dari dan di kandang sendiri itu adalah manusia-manusia yang kurang unggul dibandingkan dengan mereka yang bermain di luar kandang? Kenyataannya tidaklah demikian. Mereka yang berada di dalam kandang ini pun adalah bibit unggul, yang sayangnya mereka terjebak pada pola orientasi berpikir yang sempit. Mereka terjebak pada konflik internal dalam perebutan siapa yang memiliki apa, dengan kata lain mereka terjebak pada kondisi yang diciptakan oleh orang yang berada di luar mereka termasuk orang tua mereka sendiri, sehingga tidak mampu melihat ke- NTB-an ini dalam konteks yang lebih luas dan jernih.

Ihwal konflik internal yang muncul sebagai manifestasi dari wawasan yang berkutat dengan persoalan siapa memiliki apa pada dasar terhembus dari dua sisi yang berlawanan. Namun, pada awalnya berhulu dari kalangan generasi tua yang ingin mempertahankan posisi kepemilikannya, seperti jabatan tertentu pada suatu lembaga tertentu atau keinginan sekelompok “golongan” tertentu yang masih dibuai mimpi masa lalunya. Sementara dia sendiri sebenarnya sudah kurang cocok untuk posisi itu, lalu sentimen-sentimen kelompok atau etnislah yang dihembuskan untuk menggalang dukungan, bahkan menyugesti warga masyarakat (termasuk generari muda) dalam kelompoknya untuk mendukungnya dengan iming-iming pada masanya nanti merekalah yang akan menjadi pewarisnya. Kondisi ini secara tidak disadari telah merusak tatanan orientasi kalangan generasi muda yang cenderung melihat persoalan secara polos, transparan, dan lebih objektif beralih ke orientasi bahwa merekalah yang menjadi pewaris sah kursi yang ditempati bahkan “rumah” yang sedang dikepalai oleh orang tua, yang sebenarnya milik bersama dengan saudara-saudara lainnya. Dari sini terlahirlah orientasi generasi muda yang tergesa-gesa ingin menjadi pemilik rumah dan memanfaatkan nuansa-nuansa sentimental kelompok atau etnis demi menggalang dukungan untuk mencapai sasaran itu. Singkatnya, kondisi ini disebabkan oleh generasi tua yang sebenarnya sudah kehilangan “giginya” namun masih hendak menggigit dan dari kalangan genarsi muda yang terburu-buru ingin menggigit namun “giginya” belum tumbuh secara sempurna, lalu memanfaatkan sentimen kelompok atau etnis. Secara kurang disadari pula bahwa kondisi itu telah menjadi pemicu munculnya peluang berkonflik dengan saudara-saudaranya yang lain, bahkan konsep “putra daerah”dimanipulasi secara semantis menjadi konsep yang hanya mencakup etnis tertentu. Dalam pada itu, dengan nada yang agak putus asa, apabila keinginan untuk menggigit itu tidak tercapai, mengklaim bahwa kondisi itu sebagai cetak biru pihak “luar” untuk membuka peluang turut berkiprah, padahal tidak disadari itu merupakan undangan secara tidak langsung untuk suatu intervensi. Kondisi ini sangat memerihatinkan jika seluruh warga masyarakat kita dalam segmen ini telah terasuki dan tentu sangat bertentangan dengan energi yang dibutuhkan oleh kecenderungan dunia yang kompetitif, yang membutuhkan kesamaan dalam kepelbagaian etnis. Lebih jauh hal ini telah ikut berdampak pula pada penguasaan IPTEK generasi muda kita.

Apabila kita mendasari diri pada barometer penguasaan IPTEK bagi kalangan generasi muda dalam segmen ini (NTB) pada tolok ukur formal, maka tidak dapat disangkal bahwa dalam dasawarsa terakhir ini kondisi generasi muda kita cukup menggembirakan. Cukup banyak putera daerah ini yang berhasil mencapai jenjang pendidikan tinggi, bahkan sampai ke jenjang pendidikan S3.  Namun, tidak jarang di antaranya yang terjebak pada lingkaran perjuangan siapa memiliki apa, sehingga akumulasi potensi akademik yang diraihnya terkuras habis untuk hal-hal seperti itu, dan lalu menjadi kurang proporsional. Terjadi penumpulan visi akademik, yang pada gilirannya merambah generasi-generasi penerus yang berada di bawah tuntunannya. Akibat lebih jauh, menumbuhkan semangat yang sekadar melakoni. Kondisi ini terasa sekali pada kalangan generasi muda kita yang sedang menggali ilmu pada berbagai jenjang pendidikan. Sungguh sangat disayangkan, jika kondisi yang berawal dari upaya yang sederhana, hanya sekadar ingin menjadi lebih tua dari saudara-saudara kita itu, telah merusak tatanan kehidupan kolektif kita dalam berbagai aspek sebagai segmen dari suatu supersegmen. 

Apabila kejelasan jati diri merupakan hal yang sangat urgen bagi upaya mengantisipasi dan memasuki era globalisasi, maka hal yang utama dan pertama harus disiasati adalah membangun jati diri ke-NTB-an tersebut. Jati diri ke-NTB-an tidak lain adalah kesadaran akan keanekaragaman dalam kemanunggalan, karena segmen masyarakat ini terbentuk dari beraneka ragam etnis dengan berbagai latar belakang kondisi sosio-kulturalnya. Kesadaran akan keanekaragaman dalam kemanunggalan itu haruslah menjadi dasar bagi segala aktivitas sosio-kultural, termasuk dalam meraih peluang menempati posisi tertentu. Kesadaran itu hanya dimungkinkan tumbuh apabila dalam diri kita, warga NTB, tumbuh dan berkembang sikap adil dan demokratis. Pemilihan individu tertentu untuk mengepalai “rumah” atau “bagian rumah NTB” ini benar-benar didasarkan pada sikap adil dan demokratis. Nah, di sini peran kriterialah yang perlu ditonjolkan, bukan dari mana dia berasal (etnis atau golongan tertentu). Hal ini perlu digarisbawahi, karena hal itu merupakan biang keladi munculnya konflik internal, yang dapat merapuhkan kesatuan kita dan sekaligus menurunkan daya saing kita ke luar, teramasuk kesiapan kita dalam menghadapi era globalisasi.

            Dalam konteks itu, peran “kepala rumah tangga NTB” untuk menyiapkan kader-kader yang berasal dari dalam lingkup NTB yang tidak berorientasi etnis atau golongan, yang akan mengepalai rumah tangga di masa depan sangat menentukan bagi upaya terbentuknya jati diri ke-NTB-an yang bersatu dalam keanekaragaman. Mungkin saat ini belum ada, namun inilah tantangan dan barometer keberhasilan kepala rumah tangga pada masa-masa yang akan datang. Namun, semuanya sangat tergantung pula pada nawaitu kita.