FALSAFAH PENELITIAN

Oleh: Prof. Mahsun

 

1. Pendahuluan

            Kata Falsafah  pada topik di atas, menurut KBBI berarti membicarakan dalam-dalam tentang sesuatu. Oleh karena kata itu berada dalam deretan struktur dengan kata Penelitian, maka yang dimaksudkan dengan topik itu adalah ihwal membicarakan secara dalam-dalam tentang penelitian. Secara filosofis, pembicaraan secara dalam-dalam tentang sesuatu, dalam hal ini penelitian, menyangkut pembicaraan ihwal apa, mengapa, dan bagaimana penelitian itu sendiri. Pembicaraan ihwal apa itu penelitian menyangkut rumusan konseptual dan hakikat  penelitian itu sendiri; sedangkan pembicaraan ihwal mengapa penelitian itu dilakukan menyangkut kegunaan penelitian itu bagi kehidupan manusia. Adapun, pembicaraan ihwal bagaimana penelitian itu dilaksanakan, menyangkut aaspek metodologis dari pelaksanaan penelitian. Untuk itu, hal-hal yang akan dipaparkan dalam pembicaraan pada aspek yang ketiga ini menyangkut hakikat metode bagi pelaksanaan penelitian, serta bagaimana  seharusnya peneliti bersikap dalam melakukan penelitian serta berhadapan dengan hasil penelitian orang lain. Ketiga hal dasar di atas akan menjadi bahan pembicaraan dalam tulisan ini.

 

2. Apa itu Penelitian

Adanya dua wujud tanggapan manusia terhadap realitas alamiah yaitu di samping ia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang statis, ia juga mengamati alamnya sebagai sesuatu yang berubah dan berkembang atau sebagai sesuatu yang dinamis, merupakan salah satu penyebab munculnya persoalan, yang mendorong manusia untuk selalu mencari jawabannya. Pencarian jawaban itu dilakukannya  melalui penelitian terhadap realitas alamiah yang memunculkan persoalan tersebut. Dengan demikian, penelitian tidak lain adalah ihtiar manusia yang dilakukan dalam upaya pemecahan masalah yang dihadapi.

            Namun, patut dicatat bahwa tidak semua kegiatan yang dilakukan untuk memecahkan masalah disebut penelitian. Hal ini sangat tergantung pada jenis masalah yang ingin dicari jawabannya serta prosedur (cara) yang digunakan dalam pemecahan masalah tersebut. Apabila masalah yang ingin dicari jawabannya itu merupakan masalah biasa dan prosedur pemecahannya dapat dilakukan secara langsung, seperti seseorang yang ingin mengetahui penyebab kakinya terasa sakit bila berjalan, karena duri yang tertusuk ke dalam kakinya masih tertinggal, tidak dapat dikategorikan sebagai penelitian ilmiah. Oleh karena, untuk mengetahui penyebab kakinya terasa sakit dapat dilakukan secara langsung dengan mengeluarkan duri yang masih tertinggal di dalam kakinya itu.

            Penelitian ilmiah, seperti yang dinyatakan oleh Kerlinger (1993) adalah penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap proposisi-proposisi hipotetis tentang hubungan yang diperkirakan terdapat antargejala alam. Berdasarkan batasan penelitian ilmiah di atas terdapat empat hal yang perlu dijelaskan, yaitu:   penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap objek sasarannya

Penelitian terhadap objek sasaran tertentu dikatakan sistematis, maksudnya bahwa penelitian itu dilakukan secara sistemik dan terencana. Mulai dari identifikasi masalah yang terkait dengan objek kajiannya (termasuk di dalamnya upaya menjelaskan masalah itu secara cermat dan terinci; penyeleksian dan penentuan variabel-variabel dan instrumen-instrumen yang akan digunakan); menghubungkan masalah   tersebut dengan teori-teori   tertentu;   penyediaan data, analisis, interpretasi data; sampai pada penarikan kesimpulan serta menggabungkan kesimpulan-kesimpulan tersebut ke dalam hasanah ilmu pengetahuan yang terkait. 

Terkontrol, maksudnya bahwa setiap aktivitas yang dilakukan dalam masing-masing tahapan itu dapat dikontrol baik proses pelaksanaan kegiatannya maupun hasil yang dicapai melalui kegiatan tersebut. Hal ini memungkinkan pakar lain yang berminat melakukan hal yang sama untuk pengujian kembali hasil yang dicapai dari penelitian yang pernah dilakukan. Termasuk dalam sifat terkontrol ini adalah,   penggunaan metode dan teknik-teknik tertentu (tentunya terkandung pula makna pengabaian metode dan teknik tertentu yang sengaja tidak dipilih, karena sesuatu alasan) memiliki dasar logika pemilihan yang dikaitkan dengan sasaran yang hendak dicapai.  Dari sinilah si peneliti dapat mengontrol pemilihan dan tujuan pemilihan penggunaan metode atau teknik tertentu  itu.

Penelitian yang bersifat empiris, maksudnya bahwa fenomena   yang menjadi objek penelitian   itu adalah fenomena yang benar-benar hidup dalam kenyataan, jadi benar-benar bersumber pada fakta   yang senyatanya ada, bukan fakta   yang dipikirkan oleh si peneliti atau orang yang menjadi  informannya. Adapun yang dimaksudkan dengan penelitian   yang bersifat kritis adalah   kritis terhadap hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang diperkirakan terjadi antara realitas objek kajiannya   dengan fenomena lain yang memungkinkan objek itu muncul. Sebagai contoh, dalam kajian variasi bahasa (kajian secara dialektologis) mungkin kita akan tergoda untuk membuat suatu hipotesis bahwa suatu bahasa dapat memunculkan berbagai varian yang disebabkan faktor perbedaan tempat tinggal penutur-penutur bahasa tersebut. Hipotesis tentang munculnya varian dalam bahasa tertentu ini mungkin ada benarnya, tetapi kita juga tidak hanya terpaku pada hipotesis ini, karena ternyata berbagai kelompok penutur bahasa itu yang berbeda tempat tinggalnya secara geografis tidak juga membuat makna tertentu memiliki realisasi secara formatif berbeda. Dapat saja perbedaan itu muncul karena faktor sosio-psikologis penutur-penutur bahasa itu, yang ingin tampil dengan bentuk bahasa yang berbeda pada medan makna (glos) tertentu, misalnya munculnya varian yang bersifat sosiologis yang tidak lagi terkait dengan faktor perbedaan tempat tinggal penuturnya. Selain itu, pengertian kritis dapat pula mengandung makna kreatif, yaitu jika si peneliti dalam melaksanakan penelitiannya dengan menggunakan metode penyediaan data tertentu dalam tahapan penyediaan data, ternyata dengan metode itu data yang diharapkan muncul tidak juga terjaring, maka dia harus segera melakukan revisi metode, jadi tidak terpaku pada apa yang telah direncanakan, melainkan harus berani mengubah rencana jika tidak mencapai apa yang diharapkan. 

            Berangkat uraian di atas, maka penelitian memiliki unsur dasar (hakiki), yang tidak boleh tidak ada yaitu ada objek penelitian, ada manusia yang akan melakukan penelitian, terdapat masalah dalam objek penelitian itu sendiri. Selanjutnya, oleh karena antara manusia yang akan melakukan penelitian (peneliti) dengan objek penelitian yang memunculkan masalah itu terdapat jarak, maka diperlukan alat tertentu untuk menghubungkan peneliti dengan objek kajiannya. Alat inilah yang melahirkan teknik-teknik tertentu (juga metode tertentu) dalam suatu  penelitian.

 

3. Mengapa Penelitian Dilakukan

            Agar manusia dapat hidup layaknya sebagai manusia, maka upaya pencaraian kebenaran hukum-hukum alam (sunnatullah) yang mengatur kehidupan segala yang ada haruslah ditempuh oleh manusia, sehingga dalam menjalani kehidupan termasuk memperlakukan dan memanfaatkan ciptaan Tuhan lainnya untuk kepentingan hidup dapat dijalani sesuai dengan kodratnya. Tidak melanggar hukum penciptaannya, karena jika terjadi pelanggaran maka akan mengakibatkan kehancuran bagi kehidupan itu sendiri.  Di dunia ini terdapat dua sumber kebenaran, yaitu agama dan ilmu pengetahuan, yang masing-masing menghasilkan kebenaran Ilahiyah dan kebenaran ilmiah (ilmu pengetahuan). Kebenaran Ilahiyah bersifat mutlak, sedangkan kebenaran ilmiah lebih bersifat relatif (kebenaran metodologis).

Dalam pada itu, hasil kegiatan ilmiah yang berupa penelitian merupakan salah satu kegiatan yang ditujukan untuk menemukan kebenaran realitas objek kajian yang dipertanyakan oleh penelitinya. Oleh karena itu, pada dasarnya, penelitian dilakukan dalam rangkan menjawab permasalahan yang ditimbulkan oleh objek kajian, sehingga dapat ditemukan hukum-hukum yang mengatur ihwal objek itu secara benar.

Namun patut ditambahkan, bahwa kebenaran yang dihasilkan dalam penelitian, seperti disebutkan di atas, tetap merupakan kebenaran metododologis, karena antara peneliti dengan objek kajiannya tidak pernah secara langsung dapat berinteraksi. Ada sekat antara peneliti dengan objek kajiannya, dan yang menghubungkan antara peneliti dengan objeknya adalah teknik (alat) melalui pemilihan metode tertentu. Ketidakmampuan manusia untuk mendekatkan diri secara langsung terhadap objek kajiannya itulah yang membuat pengetahuan tentang realitas objeknya tidak pernah berakhir. Akan selalu terjadi perubahan, tergantung pada teknik (alat) yang digunakan dalam mendekati objeknya. Itu sebabnya, dapat saja suatu hasil penelitian dikritisi oleh peneliti yang datang kemudian. Di sinilah dinamika kebenaran ilmiah. Tidak ada seorang peneliti yang berhak membuat klaim kebenaran tunggal, tetapi harus mengakui keberbagaian kebenaran. Bagaikan sepasang orang buta yang memegang gajah. Yang satu memegang kakinya sedangkan yang satunya memegang ekornya. Bagi si buta yang memegang kaki, akan membuat deskripsi bahwa gajah bagaikan sebatang pohon, sedangkan yang memegang kaki membuat deskripsi dengan mengatakan bahwa gajah itu seperti seutas tali. Apakah kedua hasil deskripsi kedua orang buta (yang dianalog dengan peneliti yang belum mengenal realitas objek kajiannya itu) dikatakan salah ? Tentu tidak, semuanya benar. Tinggal persoalannya, deskripsi yang baik adalah deskripsi yang mampu memperlihatkan secara komprehensif tentang realitas objek kajiannya. Bukan melihat dari satu aspek dengan menggunakan metode tertentu yang jelas-jelas memperlihatkan keterbatasannya.

Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa suatu hasil penelitian tidak dapat dilepaskan dari hasil penelitian sebelumnya tentang topik atau objek yang sama yang pernah dilakukan. Itu sebabnya pula, seorang ilmuan haruslaah berdiri di atas pundak rekan sejawatnya yang pernah melakukan hal yang sama sebelumnya. Dia tidak dapat hadir dalam kekosongan, tetapi dia harus hadir dari keber”ada”an. Di sinilah letak urgensinya kajian atau tinjauan pustaka dalam sebuah penelitian.

 

4. Bagaimana Penelitian itu Dilaksanakan

            Seperti disebutkan di atas bahwa penelitian dilakukan oleh peneliti dengan menggunkan alat dan cara tertentu, karena antara peneliti dengan objek kajiannya terdapat sekat yang membatasi kemungkinan untuk mereka berinteraksi secara langsung, tanpa bantuan alat atau cara tertentu. Oleh karena itu, metode (termasuk teknik-tekniknya) memainkan peran yang sentral dalam sebuah penelitian. Lebih-lebih jika dihubungkan dengan kenyataan bahwa kebenaran ilmiah merupakan kebenaran metodologis.

Pemilihan penggunaan metode tertentu (tentu juga tenik-tekniknya) sangat ditentukan oleh karakter objek kajiannya, misalnya meneliti tanah yang berpasir akan berbeda salah satu alat yang digunakannya dengan meneliti tanah berbatu. Jika pada penelitian tanah berpasir, alat berupa skop dapat digunakan, bukan linggis; maka pada penelitian tanah berbatu justeru linggislah sebagai salah satu alat utamanya, bukan skop. Dalam pada itu, pengenalan awal terhadap karakter objek penelitian dapat ditelusuri melalui teori (tentu lewat kajian terhadap penelitian sebelumnya yang relevan). Dengan demikian terlihat hubungan yang erat antara metode, objek penelitian (masalah yang ditimbulkan oleh objek itu), dengan teori. Hubungan itu, tidak hanya dengan ketiga hal itu, tetapi juda dengan data yang hendak dikumpulkan demi menjawab masalah yang diajukan dalam penelitian. 

Pemilihan penggunaan metode dan teknik-teknik  tertentu pada tahapan  penyediaan data, apakah itu metode   simak atau metode cakap, unutk penelitian bahasa misalnya, sangat ditentukan oleh watak dasar dari objek penelitian. Misalnya objek penelitian, yang berupa afiks tertentu dalam bahasa tertentu, maka metode yang tepat digunakan dalam tahap penyediaan data adalah metode cakap dengan teknik pancing dengan teknik lanjutan berupa teknik  sisip, karena untuk mengidentifikasi apakah suatu satuan lingual tertentu merupakan afiks atau kata haruslah dapat dutunjukkan dengan adanya data yang dapat membuktikan bahwa satuan lingual itu tidak memiliki potensi untuk diucapkan terisolasi dari satuan lingual lainnya. Tentunya, data yang dimaksudkan adalah data polimorfemik berupa kata, yang di dalamnya terdapat objek penelitian yang berupa afik tersebut. Dalam pada itu pengetahuan tentang watak satuan lingual afiks seperti itu dan wujud data yang berupa kata yang polimorfemik sebagai data yang harus disediakan untuk pembuktian satuan lingual tertentu itu sebagai afiks hanya dapat diperoleh dari teori tentang morfem terikat yang disebut afiks itu sendiri. Dalam hal ini teori linguistik yang berhubungan dengan morfologi.  Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa komponen utama dalam pelaksanaan penelitian, yaitu adanya masalah yang secara tentatif dapat (tidak selalu) terefleksi pada hipotesis, metode dan teknik-tekniknya, dan data (yang di dalamnya terdapat objek penelitian, di samping konteks objek penelitian) memiliki hubungan yang bersifat dependensi pada teori. Teori merupakan unsur sentral yang selalu memberi pencerahan terhadap upaya perumusan masalah termasuk jawaban tentatif terhadap masalah (disebut juga hipotesis), pemilihan metode termasuk teknik-tekniknya, dan wujud data yang harus disediakan pada tahap penyediaan data. Untuk memperjelas hubungan itu diperlihatkan dalam diagram berikut ini.

 

                                                            Masalah/ Hipotesis

 



 
 

 

 

 


  • Teori                     

 

 



 
 

                        Metode/ Teknik                                                           Data

            Diagram di atas memperlihatkan bahwa teori memainkan posisi sentral dalam penelitian bahasa. Dikatakan demikian, karena baik dalam perumusan masalah (termasuk hipotesis sebagai jawaban tentatif terhadap masalah yang diteliti), maupun dalam pemilihan metode dan teknik-tekniknya, serta  penentuan wujud data yang hendak disediakan teorilah yang dapat memberi arahan. Oleh karena itu dalam diagram itu teori berada pada pusat segi tiga sama sisi.

            Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penelitian dilakukan melalui tahapan:

  1. Perumusan masalah (tentu masalah yanag ditimbulkan oleh objek kajian);
  2. Penentuan jenis data yang hendak dikumpulkan untuk menjawab masalah penelitian;
  3. Penentuan teknik (metode) yang hendak digunakan;
  4. Melakukan kajian pustaka untuk perumusan kerangka teoretis (konseptual), yang nantinya bermanfaat bagi pengenalan awal akan karakter objek kajian, yang selanjutnya digunakan unutk penentuan wujud data dan metode yang hendak digunakan; dan
  5. Melakukan penelitian, yang diawali dengan tahap pengumpulan data, lalu diikuti dengan pelaksanaan tahapan analisis data, serta diakhiri dengan pelaksanaan tahapan penyajian hasil analisis data.

 

5. Catatan Penutup

            Mengingat hasil penelitian sebagai kerja ilmiah merupakan kebenaran relatif, yang lebih dicirikan sebagai kebenaran metodologis, maka tidak ada tempat bagi seorang ilmuan untuk melakukan klaim kebenaran tunggal terhadap temuan ilmiah yang diperolehnya. Dia harus dengan rendah hati membaca dan mendirikan bangunan ilmu pengetahuan yang ditekuninya di atas pundak teman sebidangnya, yang pernah melakukan kajian yang sama sebelumnya. Dia harus mau membuka mata bagi temuan ilmiah yang dilakukan oleh ilmuan lainnya. Dalam pada itu, ketiadaan klaim kebenaran tunggal dalam ilmu pengetahuan sebagai hasil kerja ilmiah, bukan berarti seorang harus tidak berani menyuarakan hasil temuannya, dan hanya tunduk pada hasil penelitian ilmuan tertentu yang disegani karena senioritas tau lebih-lebih karena asalnya (mungkin dia peneliti dari mancanegara). Dia harus secara kesatria menunjukkan hasil kerja ilmiah yang dilakukan, dengan tidak perlu euh pakewu. Karena sesungguhnya, kebenaran adalah milik semua orang. Setiap orang berhak menemukan dan mengemukakan kebenaran yang dicapai dari kerja ilmiahnya. Selama hasil temuannya mampu meyakini banyak kalangan, maka pada saat itu konsep ilmu pengetahuan yang dibangunnya dipandang sebagai kebenaran. Menjadi ilmuan bagaikan menjadi titik yang terdapat di anatar dua titik. Titik yang di tengah, jika ditarik menjadi bangun segitiga sama kaki, maka titik di tengah itulah yang akan menjadi titik puncaknya. Memang menjadi ilmuan (baca peneliti) adalah menajdi pihak yang di tengah, netral, tanpa prtetensi apa-apa. Mungkin menarik untuk direnungkan, bahwa sesuatu yang di tengah selalu menjadi tempat yang aman, damai, bahagia.

 

 

Bacaan Utama

 

Mahsun. 2000. Penelitian Bahasa: Berbagai Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Diterbitkan Oleh DIKTI dalam rangka Proyek Penulisan Buku Teks (Pilot Project), dan sedang dalam penerbitan (2002) oleh Gadjah Mada University Press.



*) Pokok Pikiran yang disajikan dalam Penataran Metodologi Penelitian, yang diselenggrakan atas kerja sama Lemlit Unram dengan Proyek Semi-Que IV, Teknik Mesin, Unram pada 19-21 Agustus 2002, di Mataram.