INTENSITAS ADAPTASI SOSIAL PENGARUHI KEHARMONISAN

oleh: Prof. Mahsun

Dalam suatu tatanan kehidupan pluralistik terdapat dua kemungkinan wujud derajat kondisi kontak antarkomunitas. Kedua wujud  derajat kontak antarkomunitas  tersebut, pertama, mungkin kedua atau salah satu dari komunitas itu melakukan atau saling melakukan penyesuaian satu sama lain, kemungkinan kedua, salah satu atau kedua komunitas itu akan melakukan proses menjauhkan diri satu sama lain yang dalam terminologi ilmu  sosial masing-masing disebut proses asosiatif dan disosiatif.  Proses-proses tersebut juga, masing-masing akan melahirkan tatanan kehidupan yang cenderung ke arah harmoni dan disharmoni.

Selanjutnya, dalam melakukan proses baik asosiatif maupun disosiatif akan selalu terkait dengan identitas atau apa yang menjadi simbol keberadaan masing-masing komunitas. Salah satu yang menjadi identitas keberadaan komunitas-komunitas tersebut adalah bahasa. Bahasa merupakan salah satu penanda di antara beberapa penanda   komunitas (etnis) yang sangat penting, karena bahasa merupakan tempat terwadahi perubahan (evolusi) dan gambaran situasi politik yang terjadi pada masa lampau maupun masa kini. Dalam hubungan itu pula, Ande Foley menyatakan bahwa secara alamiah kontak antardua atau lebih kebudayaan (komunitas) yang berbeda akan selalu termanifestasi dalam wujud perubahan bahasa. Perubahan dimaksud dapat berupa proses adopsi ciri-ciri kebahasaan bahasa tertentu oleh bahasa yang lain atau kedua-duanya saling melakukan proses yang sama. Dalam linguistik, proses adopsi ciri-ciri kebahasaan bahasa tetentu yang dilakukan oleh suatu komunitas tutur disebut konvergensi linguistik. Namun selain itu, dapat saja perubahan bahasa itu   tidak berwujud konvergensi tetapi malah sebaliknya berwujud divergensi linguistik, yaitu proses perubahan ciri-ciri bahasa dalam suatu masyarakat tutur yang membuat ciri-ciri kebahasaannya menjadi tidak sama dengan ciri-ciri bahasa yang digunakan oleh komunitas tutur lainnya yang menjadi mitra kontak budayanya.

Kedua peristiwa kebahasaan tersebut, konvergensi dan divergensi linguistik, apabila dikaitkan dengan terminologi dalam ilmu sosial di atas, maka keduanya masing-masing dapat dipadankan dengan proses asosiasi dan disosiasi. Selanjutnya, oleh karena asosiasi dan disosiasi itu sendiri dapat dihubungkan dengan tatanan kehidupan harmoni dan disharmoni, maka peristiwa kehidupan yang cenderung ke arah harmoni dan disharmoni (konflik) dalam suatu tatanan kehidupan komunitas majemuk dapat ditelusuri melalui kajian konvergensi dan divergensi linguistik. Dalam pada itu, asosiasi dan disosiasi  hanya dapat berlangsung tergantung pada ada/ tidaknya perasaan kesederajatan/ kesetaraan dan kesamaan di antara dua atau lebih komunitas  yang melakukan kontak atau interaksi  tersebut. Kesamaan yang dimaksudkan di sini baik karena kesamaan asal maupun karena kesamaan sejarah yang dialami pada fase historis tertentu. Apabila kesederajatan dan kesamaan tercipta, maka hubungan yang bersifat konvergensi (asosiatif) akan dapat berlangsung; sebaliknya jika suasana kesederajatan dan kesamaan tidak tercipta maka hubungan yang bersifat divergensi (disosiatif)-lah yang akan berlangsung.

Dengan demikian, terdapat kesepadanan antara adaptasi linguistik dengan adaptasi sosial. Apabila di antara komunitas tutur yang melakukan kontak memiliki derajat adaptasi linguistik yang tinggi, maka tatanan kehidupan  yang harmonislah yang akan terbentuk; sebaliknya apabila derajat adaptasi linguistik di anatara komunitas tutur bahasa yang berbeda yang melakukan kontak itu rendah, maka tatanan kehidpan  yang mengarah pada disharmonilah yang akan terbentuk. Dengan kata lain, semakin tinggi derajat adaptasi linguistik, maka akan semakin rendah derajad potensi konflik; sebaliknya semakin rendah derajat adaptasi linguistik maka semakin tinggi derajat munculnya potensi konflik di antara komunitas tersebut.

Berdasarkan pandangan di atas, menarik untuk diamati fenomena  kehidupan pluralistik di pulau Lombok. Di pulau ini, paling tidak berdasarkan bahasa yang dijadikan identitas kelompok, ditemukan paling tidak tiga komunitas tutur bahasa yang jumlah penuturnya besar, yaitu komunitas tutur bahasa Sasak (penduduk asli), komunitas tutur bahasa Bali, dan komunitas tutur bahasa Sumbawa. Kedua komunitas tutur bahasa yang terakhir disebutkan merupakan pendatang, yang kehadirannya karena fakor politis yang terjadi beberapa ratus tahun lalu.

Dari segi distribusi geogafis, kedua komunitas pendatang itu menyebar di beberapa wilayah pulau Lombok. Ada komunitas Sumbawa yang tinggal berdampingkan dengan komunitas Bali dan komunitas Sasak, ada komunitas Bali yang tinggal bedampingan dengan komunitas Sasak.  Yang menarik dari kehidupan pluralistik ini ialah terdapat sebagian wilayah yang memperlihat kecenderungan kehidupan  yang harmoni dan sebagian yang lainnya memperlihatkan kecenderungan ke arah kehidupan  yang disharmoni. Tidak jarang dari kehidupan  yang disharmoni itu berwujud konflik  yang terbuka dan bersifat laten serta mengakar, seperti yang terjadi pada pemukiman Sumbawa-Bali di Cakranegara, (Karang Taliwang-Karang Sindu) dan yang terjadi pada pemukiman Sasak-Bali juga di Cakranegara (Karang Tapen-Karang Jasi/Lelede). Persoalannya, apakah munculnya sebagian wilayah yang komunitasnya terdiri atas komunitas tutur bahasa Sasak, Bali, dan Sumbawa yang cenderung ke arah disharmoni dan sebagian lagi ke arah harmoni itu terkait dengan derajat adaptasi sosial, yang tercermin melalui adaptasi linguistik,yang berlangsung di antara mereka?

            Dari penelitian yang dilakukan dengan sampel kehidupan pluralis yang harmoni: Sasak-Sumbawa (Rumbuk Siren – Pancuran) dan Sasak-Bali (Babakan-Dasan Gres, Tambang Eleh, Lamper, Gumitri, Rincung, Lilin, Kesume dan Gumese), dan sampel kehidupan pluralis yang disharmoni: Sasak – Bali (Karang Tapen-Karang Jasi/Lelede); Sumbawa – Bali (Karang Taliwang-Karang Sindu). Pada wilayah pemukiman pluralis yang harmoni, secara kualitatif memperlihat adaptasi linguistik yang sangat intens. Untuk komunitas Sumbawa dalam hubungannya dengan komunitas Sasak, adaptasi yang sangat intens terlihat misalnya pada serapan unsur kebahasaan yang mencakup semua tataran linguistik, seperti serapan pada tataran bunyi, leksikon, dan gramatika. Bahkan sampai pada tataran pragmatik, seperti terlihat pada kemapuan komunitas Sumbawa tersebut menggunakan bahasa Sasak melalui mekanisme adaptasi linguistik yang berwujud campur kode dan alih kode.

Intensnya adaptasi linguistik yang dilakukan komunitas Sumbawa terhadap komunitas Sasak, berdampak pada tingginya adaptasi sosial yang mengarah pada integrasi sosial. Hal ini terbukti dengan tidak ditemukannya satu pun kantong pemukiman komunitas Sumbawa yang berdampingan dengan komunitas Sasak yang cenderung ke arah kehidupan disharmoni. Dengan kata lain, tingginya adaptasi linguistik pada komunitas Sumbawa terhadap komunitas Sasak mencerminkan adaptasi  sosial yang tinggi dari komunitas Sumbawa terhadap komunitas Sasak, sehingga terjadinya peristiwa yang mengarah pada konflik komunal yang bersifat laten, historis di antara kedua komunitas tersebut dapat terhindari.

            Hal yang sama terjadi pada sampel kehidupan pluralis yang harmoni antara Bali dengan Sasak (Babakan-Dasan Gres, Tambang Eleh, Lamper, Gumitri, Rincung, Lilin, Kesume dan Gumese). Dari sudut pandang linguistik, meskipun jumlah tataran kebahasaan yang terlibat pada peisriwa adaptasi linguistiknya terbatas hanya pada tataran leksikon dan pragmatik yang berwujud alih kode, namun karena adaptasi linguistik tersebut dibangun atas dasar pondasi kebersamaan dan kesamaan, baik itu kesamaan asal maupun kesamaan sejarah, maka pada kantong-kantong penutur bahasa Bali tersebut tidak ditemukan peristiwa yang mengarah pada konflik komunal yang bersifat laten, mengakar, historis seperti yang terjadi pada pemukiman komunitas Bali-Sasak di karang Jasi/Leledeh-Tapen.

Berbeda halnya dengan komunitas Bali-Sasak di karang Jasi/Leledeh-Tapen, meskipun terdapat adaptasi linguistik yang berwujud alih kode, adaptasi linguistik pada komunitas ini lebih didasari oleh motivasi, secara historis, untuk memperkuat hegemoni komunitas ini pada komunitas Sasak. Melalui penguasaan budaya, yang salah satunya bahasa, komunitas ini pada masa lampau (dan mungkin secara intuitif ditrsmisikan pada generasi muda melalui cerita historis yang mereka alami pada masa lampau) dapat memperkuat strategi hegemoninya pada komunitas Sasak. Dengan demikian adaptasi linguistik lebih merupakan strategi hegemoni daripada strategi integrasi sosial. Pola seperti ini, dapat kita cermati dari misi Snouck Hourgronge pada  masa pemerintahan Belanda dulu. Hal lain, yang menjadi pembeda antara komunitas Bali-Sasak di pemukiman pluralis harmoni dengan yang disharmoni (berkoflik) ialah ternyata mereka berasal dari asal yang berbeda dengan motivasi awal kedatangan yang berbeda. Apabila pada wilayah yang harmoni itu, mereka datang dari Nusa Penida dan termotivasi untuk bekerja (menemukan sumber  kehidupan baru), maka pada wilayah yang disharmoni mereka berasal dari Karang Asem dengan motivasi historis-politis-kekuasaan.

            Sebaliknya, rendahnya adaptasi linguistik yang juga mencerminkan rendahnya adaptasi  yang terjadi antara komunitas Sumbawa dengan komunitas Bali di satu sisi dan tingginya adaptasi linguistik yang sekaligus mencerminkan tingginya adaptasi  sosial komunitas Sumbawa pada komunitas Sasak yang ada di sekitarnya pada sisi yang lain, bersepadan dengan kiondisi  sosial budaya yang melibatkan ketiga komunitas yang berbeda bahasa tersebut. Konflik komunal Taliwang-Sindu/Tohpati yang bersifat laten dan mengakar telah menjadi peristiwa yang hampir memilki siklus keberulangan terjadi antara komunitas Sumbawa dengan Bali setempat. Sementara itu konflik komunal yang serupa antara komuntas Sumbawa dengan Sasak sejauh ini tidak pernah dijumpai.

            Suatu hal yang memberi harapan yang lebih prospektif bagi keberlangsungannya suasana harmoni antara komunitas Sasak, Bali, dan Sumbawa di pemukiman yang memperlihatkan kecenderungan pada tatanan kehidupan harmoni tersebut adalah bahwa adaptasi linguistik yang mencermin adaptasi sosial, secara kualitatif,  terjadi dengan derajat yang tingi pada segmen  muda. Itu artinya, tatanan kehidupan ini akan terus terpelihara di masa-masa mendatang. Namun demikian, upaya-upaya resolusi konflik, baik yang bersifat prepentif maupun yang berifat kuratif hendaknya selalu menjadi ihtiar bersama dalam membangun tatanan kehidupan  pluralis yang lebih baik di NTB.