KEKERABATAN BAHASA-BAHASA DI NTB

KAJIAN TANAH ASAL PENUTUR-PENUTURNYA*

Oleh: Prof. Mahsun

1. Pendahuluan

        Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu propinsi yang terdapat di Kawasan Tenggara Indonesia. Propinsi ini memiliki penduduk 3.368.699 jiwa yang hidup tersebar pada dua buah pulau, yaitu pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Di Propinsi inilah  terdapat garis Brandes yang membagi dua kelompok bahasa Melayu Polinesia, yang disebutnya sebagai Subkelompok Nusantara Barat dan Nusantara Timur, tepatnya di antara daerah pakai bahasa Samawa (Sumbawa) dan bahasa Mbojo (Bima) di pulau Sumbawa (periksa peta 1). Di kedua pulau yang menjadi wilayah administratif propinsi ini hidup berdampingan berbagai macam suku bangsa. Selain tiga suku bangsa mayoritas, dan merupakan penduduk asli, yaitu suku Sasak yang sebagian besar mendiami pulau Lombok; suku Samawa dan Mbojo, yang masing-masing mendiami pulau Sumbawa bagian barat dan timur; juga terdapat suku bangsa lainnya seperti Bali, Jawa, Bugis, Bajo, Banjar, dan Melayu, yang masing-masing ditandai oleh bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, propinsi ini merupakan bentuk mininya Indonesia.

        Sampai saat ini penelitian tentang bahasa dari berbagai suku bangsa yang hidup di wilayah NTB sudah cukup banyak dilakukan, khususnya pada tiga bahasa etnis mayoritas tersebut. Penelitian tentang kekerabatan bahasa-bahasa di wilayah ini pertama kali dilakukan oleh Herusantoso dkk. (1987), disusul oleh Mbete (1990), dan penelitian variasi bahasa tentang beberapa bahasa di NTB juga pernah dilakukan seperti yang dilakukan oleh Teeuw (1951), dan Mahsun (1994). Penelitian yang dilakukan oleh Herusantoso dkk. tersebut merupakan penelitian yang pertama yang dilakukan dalam rangka pemetaan bahasa-bahasa di NTB, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Mbete merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan dalam kerangka mencoba menelususri bahasa purba yang menurunkan bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa; sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Teeuw juga merupakan penelitian yang pertama terhadap deskripsi perbedaan dialektal yang terdapat dalam bahasa Sasak dan sekaligus merupakan penelitian yang pertama di Indonesia yang mencoba menerapkan teori dialek geografis. Adapun penelitian yang dilakukan oleh Mahsun lebih banyak berkutat dengan upaya mendeskripsikan variasi dialektal yang terdapat dalam bahasa Samawa (Sumbawa) serta menelusuri  (merekonstruksi) bahasa purba yang menurunkan dialek-dialek bahasa tersebut.

       Terlepas dari penelitian yang dilakukan Teeuw terhadap bahasa Sasak dan penelitian yang dilakukan oleh Mahsun terhadap bahasa Sumbawa, karena lebih bersifat khusus terhadapat satu bahasa tertentu, dua penelitian yang disebut pertama kali di atas pun belum dapat memberikan gambaran yang menyeluruh dan komprehensif tentang kondisi kebahasaan yang ada di NTB. Namun, dengan meramu informasi dari keempat penelitian di atas, serta memadukannya dengan informasi yang diperoleh pada tahap penyediaan data yang dilakukan oleh Mahsun (1997) dalam rangka penelitiannya melalui Proyek Riset Unggulan Terpadu V, terhadap bahasa Sasak maka berikut ini akan dicoba berikan gambaran ihwal situasi kebahasaan di NTB serta daerah sebarannya, baik yang menyangkut level perbedaan bahasa maupun perbedaan dialek, kecuali bahasa Mbojo, yang belum dilakukan penelitian dari aspek dialektologis.

 

2.   Situasi Kebahasaan di NTB

2.1 Bahasa-Bahasa di Pulau Lombok

        Pulau yang luasnya 4738,65 km2 ini didiami oleh kurang lebih 2.403.205 jiwa yang berasal dari berbagai latar etnis. Etnis mayoritas adalah etnis yang menggunakan bahasa Sasak. Penggunaan bahasa ini menyebar di seluruh pulau Lombok dengan berbagai variannya. Meskipun bahasa ini pernah dikaji secara dialektologis (periksa Teeuw, 1951 dan Herusantoso dkk., 1987), namun gambaran secara jelas tentang varian dialektalnya, dalam arti berapa jumlah dialek, subdialek, serta ciri-ciri linguistik yang menandai dialek atau subdialeknya belum terungkap secara jelas.

        Penelitian Teeuw yang cukup rinci tentang kondisi bahasa Sasak pun belum dapat memberikan secara jelas tentang dialek-dialek atau subdialek-subdialek yang ada dalam bahasa ini. Dari 78 buah peta bahasa yang dihasilkan, hanya beberapa buah peta saja yang menggambarkan perbedaan bidang fonologi, selebihnya merupakan peta perbedaan bidang leksikon. Padahal, bahasa Sasak banyak memiliki perbedaan dalam bidang fonologi.

        Dari pengumpulan data yang dilakukan Mahsun (1997) dalam rangka penelitiannya melalui Riset Unggulan Terpadu V, yang sampai awal Juli ini baru berhasil dikumpulkan data kebahasaan sebanyak 20 buah daerah pengamatan dari 90 buah daerah pengamatan yang direncanakan, perbedaan bidang fonologi yang berhasil disingkap antara lain perbedaan:

         Pernah ada upaya pengelompokan bahasa Sasak atas lima dialek, yang didasarkan pada bentuk yang digunakan dalam merealisasikan makna ‘begini’ dan ‘begitu’, yaitu dialek Ngeno-Ngene,  Meno-Mene, Mriak-Mriku, Kuto-Kute, dan Ngeto-Ngete (periksa Toir, 1985). Desa-desa yang penuturnya termasuk penutur masing-masing dialek di atas dapat dikemukakan berikut ini. Desa Lendang Nangka, Pringgasela, Selaparang dll. yang ada di wilayah Lombok Timur serta beberapa desa yang berada di wilayah Lombok Barat merupakan desa-desa yang penuturnya menggunakan dialek Ngeno-Ngene; desa-desa yang berada di wilayah Pejanggik dan sekitarnya, seperti desa Pengadang, Pejanggik dll. merupakan desa yang penuturnya menggunakan dialek Meno-mene; desa-desa yang berada di wilayah Pujut seperti Penujak, Bonjeruk dll. merupakan desa yang penuturnya mengunakan dialek Mriak-Mriku; desa-desa yang berada di wilayah Bayan seperti Bayan, gondang, Tanjung dll. merupakan desa yang penuturnya menggunakan dialek  Kuto-Kute; dan desa-desa yang berada di wilayah  Suralaga dan Sembalun merupakan desa-desa yang penuturnya menggunakan dialek Ngeto-Ngete.

       Pembagian berdasarkan ciri-ciri linguistik yang hanya berdasarkan dua makna seperti di atas belum dapat dikatakan memadai, karena masih banyak perbedaan lainnya yang perlu dipertimbangkan. Sebagai contoh, untuk beberapa perbedaan fonologi di atas, misalnya perbedaan antara  h ~ r/-#       d ~ r/ V-V dan perbedaan l ~ n/ -#, masing-masing (sekedar contoh) pada  bentuk yang merupakan realisasi dari makna ‘akar’,‘cium’, dan ‘duduk’ dapat menyatukan antara desa Pringgasela (yang dalam kategori di atas disebut  sebagai desa penutur dialek Ngeno-Ngene) dengan desa Bayan, Gondang, dan Tanjung  (yang dikategorikan penutur dialek Kuto-Kute) sebagai penutur  dialek yang sama. Persoalan yang patut dilontarkan sehubungan dengan pengkategorian semacam itu, adalah sudah patutkan perbedaan pada dua makna di atas diangkat sebagai perbedaan yang mewakili perbedaan-perbedaan lainnya.

     Selain bahasa Sasak, seperti disebutkan di atas, di pulau ini juga tinggal beberapa suku bangsa lainnya yang menggunakan bahasa tersendiri. Beberapa bahasa lain yang dituturkan sebagian kecil penduduknya adalah bahasa Bali, yang penuturnya menyebar di wilayah Lombok Barat: Gerung, Cakranegara, Tanjung, Pemenang, Rencong, Narmada, Pagutan, dan Pagesangan; bahasa Sumbawa, yang penuturnya terdapat di Lombok Timur: Rumbuk Siren, Jantuk, Kuang Brora, Dasan Baru, Rempung, dan Kembang Kerang, dan di Lombok Barat: Kampung Taliwang (Cakranegara); bahasa Melayu di Ampenan; bahasa Bugis di daerah pantai: Gili Air, Tanjung Ringgit, Tanjung Luar, Pulau Meringkiq (Lombok Timur); dan Bahasa Jawa yang digunakan oleh penutur yang tinggal dikampung Jawa (Praya, Lombok Tengah).

2.1 Bahasa-Bahasa di Pulau Sumbawa

          Di pulau yang luasnya kurang lebih 15.414,50 Km2 ini dengan penduduknya berjumlah 965.494 jiwa (BPS, 1993) terdapat dua bahasa daerah yang penuturnya lebih besar, yaitu penutur bahasa Samawa (Sumbawa) dan bahasa Mbojo. Bahasa Samawa digunakan oleh penutur yang tinggal di bagian barat pulau sumbawa (Kabupaten Sumbawa) sedangkan bahasa Mbojo digunakan oleh penutur yang tinggal di bagian tengah dan timur pulau Sumbawa (Kabupaten Dompu dan KabupatenBima).   

 

Selanjutnya, dialek Taliwang memiliki tiga subdialek yaitu subdialek Salit (SDSt) yang memiliki daerah pakai desa-desa: Salit, Kuang, Sampir, Manala, Dalam, Mura, Sapugara, Lampok, Kalimantong, Desa Beru, Seloto, dan desa lain yang berada pada wilayah kecamatan Taliwang yang tidak termasuk dalamdaerah pakai subdialek DT lainnya; Subdialek Meraran (SDMr) yang memiliki daerah pakai desa Meraran dan Airsuning; dan subdialek Mantar (SDMTr) yang memiliki daerah pakai desa Mantar. Ciri-ciri linguistik yang menandai dan membedakan ketiga subdialek tersebut satu sama lain adalah adanya korespondensi antara:

 

     Dialek Sumbawa Besar (DSB) memiliki tiga subdialek, yaitu subdialek Rhee (SDR) yang memiliki daerah pakai Desa Rhee di Kecamatan Utan; subdialek Seran yang memiliki daerah pakai desa Seran (kecamatan Seteluk) desa-desa lain yang berada di wilayah kecamatan Seteluk Lainnya, desa-desa yang berada di kecamatan Alas, Utan, Sumbawa Besar, Moyo Hilir, Moyo Hulu, Pelampang, Empang, Ropang (kecuali desa-desa yang telah termasuk dalam daerah pakai ketiga dialek yang pertama diuraikan di atas), Lunyuk (kecuali Emang), Batu Lanteh (kecuali Desa Baturotok) dan Lape. Ciri-ciri linguistik yang membedakan ketiga subdialek ini satu sama lain adalah sebagai berikut. Ciri khas Subdialek Rhee adalah tidak terdapatnya bunyi konsonan glotal stop (hamzah): [q] pada posisi akhir. Ciri ini merupakan ciri yang membedakan subdialek tersebut tidak hanya terhadap subdialek dalam dialek yang sama (dialek Sumbawa Besar itu sendiri) tetapi juga dengan subdialek-subdialek dalam dialek bahasa Samawa lainnya. Adapun yang membedakan antara subdialek Seran dengan subdialek Baturotok adalah adanya korespondensi antara subdialek Seran (SDSn): [I]  SDBTr:  [i] dan [u] pada posisi silabe ultima yang berakhir konsonan /s, r, dan t/ seperti pada contoh berikut ini.

     Secara geografis daerah pakai keempat dialek bahasa Samawa tersebut dapat dilihat pada peta berkas isogolos dan peta dialek-dialek bahasa Samawa (lampiran).

    Adapun untuk bahasa Mbojo, yang daerah pakainya mencakup sebagian besar desa-desa yang terdapat di kabupaten  Dompu dan Bima belum banyak diperoleh informasi, karena penelitian secara dialektologis belum pernah dilakukan, kecuali sebagian kecil (empat dearah pengamatan) penutur bahasa Mbojo di Kecamatan Wawo, yang dilakukan oleh Haris (1996) untuk skripsi S1 di FKIP Unram. Dari penelitian itu diperoleh gambaran bahwa isolek Mbojo yang digunakan di daerah tersebut merupakan variasi dialektal dari bahasa Mbojo. Di daerah pakai isolek ini masih banyak ditemukan bentuk relik, yang merupakan warisan dari bahasa purba (PAN), seperti: kmbo ‘kerbau’, manu ‘ayam’ dll. Selain varian ini, bahasa mbojo juga memiliki varian geografis, seperti yang terdapat di Kolo dan Kore. Belum banyak hal yang dapat diungkapkan tentang ciri-ciri fonologis dialek-dialek dalam bahasa ini, karena penelitian secara komprehensif belum banyak dilakukan. Namun, yang patut direnungkan dalam kaitannya dengan ciri pembeda bahasa ini dengan bahasa lain yang terdapat di NTB adalah bahwa bahasa Mbojo merupakan salah satu anggota kelompok bahasa Bima-Sumba, yang oleh Brandes dikelompokkan ke dalam kelompok bahasa Nusantara Timur, dengan ciri-ciri bahasa vokalis, dan memiliki kontras konsonan bilabial implosif bersuara b: bala ‘siang’ dengan bilabial bersuara b: bala ‘bala’; dan kontras konsonan apikopalatal implosif: d: didi ‘tekan’ dengan apikopalatal: didi ‘pesan’. Konsonan-konsonan semacam ini tidak terdapat dalam dua bahasa besar (jumlah penuturnya) yang terdapat di wilayah propinsi  ini.

     Selain bahasa Samawa dan bahasa Mbojo yang penuturnya cukup besar, juga terdapat Bahasa lain yang penuturnya relatif kecil yaitu bahasa Bajo, Bali, Jawa, dan Sasak. Bahasa Bajo digunakan oleh penutur yang tinggal di daerah pantai seperti desa Labuan Lalar, Selayar, Banjar, Jurumapin, Pulau Bungin, Labuan Sumbawa (Kabupaten Sumbawa); dan penduduk di Kepulauan Bajo (Teluk Saleh, di Kabupaten Dompu dan Teluk Sape, pantai timur  Kabupaten Bima). Adapun penutur bahasa Bali dan Sasak yang terdapat di Pulau Sumbawa merupakan penduduk yang belum lama tinggal di sana. Mereka datang ke Pulau Sumbawa dalam rangka program Transmigrasi lokal. Kebanyakan mereka tinggal di bagian barat pulau Sumbawa (Kecamatan Jereweh, kecamatan Alas, dan Kecamatan Lunyuk).

3. Hubungan Antarbahasa di NTB

          Ada dua penelitian yang menarik untuk dikemukakan hasilnya sehubungan dengan pembahasan dalam seksi ini, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Mbete (1990) dan Syamsuddin (1996). Secara rinci hasil kedua penelitian tersebut akan dipaparkan berikut ini secara berturut-turut.

          Penelitian yang dilakukan oleh Mbete mencoba mengoreksi kembali pengelompokaan bahasa yang dilakukan Dyen, khususnya yang berkaitan dengan kekerabatan bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa, yang disebutnya sebagai keluarga bahasa Bali (Balic subgroup,

istilah Dyen). Dalam pengujian itu,Mbete mengambil bahasa pembanding di sebelah timur: bahasa Bima (BBm) dan bahasa Manggarai (BMg), serta di sebelah barat bahasa Jawa (BJw) dam bahasa Madura (BMd). Dengan menggunakan perhitungan leksikostatistik berdasarkan 200 kosa kata dasar diperoleh hasil sebagai berikut.

       Variasi kemiripan/ kekognatan antara bahasa yang diperbandingkan di atas berada pada rentangan prosentase antara 18 - 64 %. Hal ini menunjukkan bahwa  bahasa-bahasa tersebut merupakan anggota rumpun/ turunan (stock) yang sama, dalam hal ini rumpun bahasa Austronesia.  Namun, apabila dilihat hubungan antara bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa dengan bahasa-bahasa pembandingnya, baik yang berada di sebelah barat maupun timurnya dalam konteks pengelompokan yang berbeda, maka rupanya bahasa Bali, Sasak, Sumbawa memiliki tingkat kemiripan yang lebih tinggi denagan bahasa kelompok bahasa pembanding di sebelah baratnya dibandingkan dengan kelompok bahasa pembanding di sebelah timurnya, yaitu masing-masing mencapai 41 % dan 31 %. Artinya, bahasa Bali, Sasak, Sumbawa lebih dekat hubungannya dengan bahasa pembanding di sebelah baratnya dibandingkan dengan bahasa pembanding di sebelah timurnya. Hal ini menunjukkan pula dapat diterimanya hipotesis Brandes tentang pengelompokan bahasa-bahasa Melayu Polinesia atas subkelompok Nusantara Barat dan Nusantara Timur.

     Bukti  kunatitatif lainnya ditunjukkan pula oleh Syamsuddin dengan melakukan uji ulang atas hipoteisis kekerabatan bahasa-bahasa kelompok Bima-Sumba. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode leksikostatistik diperoleh hasil yang kurang lebih sama, seperti berikut ini.

Perhitungan leksikostatistik di atas memperlihatkan bahwa bahasa Bima (BBm) memiliki kedekatan dengan bahasa-bahasa yang berada di sebelah timurnya, seperti dengan bahasa Komodo (BKm), Manggarai( BMg), bahasa Ngada (BNg), bahasa Lio, bahasa Sumba (BSB) daripada dengan bahasa Sumbawa.

Selain bukti kuantitiatif, Mbete juga memberikan bukti kaulitatif tentang kesatuasalan bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa berupa inovasi bersama yang dialami oleh bahasa-bahasa tersebut setelah pecah dari bahasa purbanya, seperti metatesis bersama pada ketiga bahasa tersebut:

 

Belum lagi ditambah dengan beberapa kata yang merupakan inovasi leksikal, seperti:

Dalam pada itu, bukti kualitatif yang membedakan kelompok bahasa-bahasa ini dengan bahasa Bima adalah tidak dijumpainya konsonan bilabial implosif bersuara dan konsonan implosif bersuara dalam ketiga bahasa itu, sementara dalam bahasa bima dan bahasa-bahasa lainnya yang sekelompok dengan bahasa Bima seperti bahasa Komodo, Manggarai justeru ditemukan konsonan ini. Bahkan dijumpai pasangan minimal yang membuktikan bahwa bunyi itu adalah sebuah fonem, bandingkan misalnya:

bala ‘siang’ – bala ‘bala’

didi ‘tekan’ – didi ‘pesan’ dll.

Hasil ini pula memperlihatkan bahwa hipotesis Brandes dapat berterima. Namun, sekali lagi semuanya merupakan anggota dari sebuah rumpun bahasa, yaitu bahasa Autronesia. Kesatu-asalan itu dapat dilihat dengan terdapatnya refleks bahasa purba Austronesia yang masih dipelihara oleh keluarga bahasa Bali-Sasak-Sumbawa di satu sisi dengan keluarga bahasa Bima-Sumba pada sisi yang lain, misalnya:

Secara diagramatis kekerabatan bahasa-bahasa di NTB, untuk empat bahasa di atas dapat ditunjukkan berikut ini.

4.   Bahasa-Bahasa di NTB: Hipotesis Tanah Asal Penuturnya

Nothofer (akan terbit)  berdasarkan tingkat kuantitas jumlah variasi yang terdapat pada ragam bahasa Jawa Ngoko dan kromo mengajukan sebuah hipotesis tentang tingkat keragaman isolek dikaitkan dengan asal penyebaran bahasa atau penuturnya. Menurutnya, bahwa tanah asal suatu keluarga bahasa (sekaligus penuturnya) terletak di daerah yang isoleknya paling  beranekaragam. Bertitik tolak pada hipotesis itu, dengan mengambil contoh pada bahasa Sumbawa, yang memang sudah dilakukan deskripsi secara dialektologis dengan lebih terperinci, menunjukkan bahwa arah penyebaran isolek ini dimulai dari arah barat ke timur. Di bagian barat inilah banyak terdapat  variasi dialektal dibandingkan dengan bagian timur daerah pakai bahasa tersebut (periksa peta 2). Kenyataan ini pula diperkuat dengan masih dipeliharanya unsur bahasa puraba (Prototbahasa Austronesia) seperti hadirnya vokal tinggi [i] da [u] pada semua posisi pada penutur bahasa ini di bagian barat tersebut. Jadi, sesungguhnya ada dua hipotesis kerja yang dapat digunakan dalam melacak tanah asal penyebaran bahas, yaitu tingkat variasi dialektal dan evidensi pewarisan bahasa purba pada daerah pemukiman pemakaian bahasa tersebut.

Dengan berangkat pada hipotesis kerja yang kedua (pemeliharaan unsur bahasa purba), karena deskripsi secara dialektologis terhadap dua bahasa anggota keluarga bahasa Bali-Sasak-Sumbawa belum terdiskripsi secara dialektologis, kiranya dapat dikemukakan arah penyebaran keluarga bahasa ini dari barat ke timur. Apabila ancar-ancar tanah asalnya berada di bagaian barat, artinya pulau Bali, maka dapat ditentukan bahwa arah penyebarannya tentu dari sana ke pulau Lombok dan menyeberang ke pulau Sumbawa bagian barat, sementara dari arah timur berdatangan penutur bahasa Mbojo. Belum dapat dipastikan di bagian mana pulau Bali dan Lombok tempat awal penyebaran keluarga bahasa ini, karena kajian secara dialektologis (Diakronis) tentang kedua bahasa itu (Bali dan Sasak) belum dilakukan. Begitu pula dari mana asal penyebaran keluarga bahasa Bima-Sumba sampai saat ini belum dapat ditentukan, karena alasan yang sama seperti alasan di atas. Untuk itu, kajian secara mendalam dari aspek dialektologis terhadap bahasa-bahasa yang menjadi anggota kedua keluarga bahasa ini (Bali-Sasak-Sumbawa dan Bima-Sumba) perlu dilakukan secara terinci. 

        

RUJUKAN PUSTAKA

 

Brandes, J.L.A. 1884. Bijdragen tot de Verglijkende Klankleer der Westerse. Afdeeling van de Meleiche Polynesische Taalfamilie Utrecht.

Mbete, Aron Meko.1990. “Rekonstruksi Protobahasa Bali-Sasak-Sumbawa”. Disertasi Doktor, Universitas Indonesia, Jakarta.

Haris, Abdul. 1996. “Isolek Mbojo di Kecamatan Wawo: Suatu Kajian Dialektologis”. Skripsi S1 FKIP Universitas Mataram.

Herusantoso, Suparman dkk. 1987. Pemetaan Bahasa-Bahasa di NusaTenggara Barat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Mahsun. 1994. “Penelitian Dialek Gografis Bahasa Sumbawa”. Disertasi Doktor, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Nothofer, Bernd (akan terbit). “Migrasi Orang Melayu purba”.

Syamsuddin A.R. 1996. “Kelompok Bahasa Bima-Sumba: Kajian Linguistik Historis Komparatif”. Disertasi Doktor Universitas Padjadjaran Bandung.

Teeuw, A. 1951. Dialect-Atlas van/of Lombok (Indonesia). Djakarta: Biro Reproduksi Djawatan Topografi.

Toir, Nazir dkk. 1985. Kamus Sasak-Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



* Makalah yang disajikan dalam rangka Bulan Apresiasi Budaya IV Nusa Tenggara Barat, di Mataram 21-24 Juli 1997.