KETERBUKAAN SEBAGAI EVIDENSI LAIN KEKERABATAN SASAK-SAMAWA

oleh: Prof. Mahsun

Dalam pengembaraan kemunsyian saya untuk mencoba memahami esensi keberadaan keberbagairagaman etnis di wilayah NTB ini, sampailah saya pada satu titik untuk mencari adakah benang merah yang memperlihatkan pertalian antarsatu etnis dengan etnis lainnya. Tatkala sampai pada pengamatan awal untuk semua etnis yang ada, saya terkesimak pada evidensi (bukti-bukti) yang menggambarkan perilaku kultural antara etnis Sasak dengan etnis Samawa.

Untuk etnis Sasak saya mencoba merajut benang merah sistem budaya yang membentang dalam perilaku sosiokulturalnya, mulai dari sistem komunikasi verbal yang digunakan pada upacara sorong-serah, ajukrame, penulisan hikayat, lontar, sampai pada pemilihan kosakata dalam membangun sistem keundausukan (tingkat tutur) untuk komunikasi verbal lintas segmen sosial yang berbeda dalam komunitas Sasak itu sendiri. Ada sederet pertanyaan dari pengamatan terhadap sarana komunikasi verbal tersebut. Di antaranya, mengapa dalam komunikasi verbal pada upacara sorong serah, ajikrame, penulisan dalam lontar, misalnya  Jatiswara, Menak, Puspakarme, Babad Selaparang, Bangbari, Jong Lengge, Megadenta, Kabar Sundari, La Duni, Nabi Haparas, Dajjal dan lainnya menggunakan medium verbal yang berahasa Kawi? Sementara dalam penulisan hikayat, misalnya hikayat Marakarma, Miqraj, Nabi Bercukur, Siti Zubaida, dan Kamarussaman menggunakan medium verbal bahasa Melayu yang bertuliskan aksara Arab-Melayu. Dalam pada itu, untuk membangun sistem keundausukan untuk menunjukkan tatakrama pergaulan lintas segmen sosial sesama etnis dikembangkan melalui penyerapan kosakata dari bahasa lain. Profesor Bernd Nothofer, Guru Besar Bahasa dan Kebudayaan Austronesia di Universitas Frankfurt, Jerman menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa kebanyakan kosakata halus dalam bahasa Sasak merupakan unsur serapan dari bahasa Jawa-Bali dan Melayu. Di samping harus dicatat bahwa dalam beberapa lontar juga digunakan sarana komunikasi verbal yang berbahasa Sasak, misalnya: Megantaka, Cilinaya, Monyeh, Babad Sakra, Cupak Grantang, Sandu Baya, Indrajaya, dan termasuk pula dalam Usade ‘tentang obat-obatan’.

Jawaban terhadap pertanyaan itu, teringat saya pada jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan, mengapa aksara Latin dikenal dan bahkan dijadikan alat untuk sistem tatatulis secara luas oleh berbagai bangsa di dunia ini? Patut dicatat bahwa, Indonesia menggunakan aksara Latin dalam mengembangkan sistem ejaannya. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang berawal dari Yunani Purba. Masyarakat dunia yang terkesimak pada perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dari sana telah berupaya menyerapnya bersamaan dengan  menyerap sistem tatatulis yang digunakan oleh bangsa yang menyebarkan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dengan beranalogi pada logika penyebaran aksara Latin pada seluruh penjuru dunia di atas, dapat dikatakan bahwa ada dua alasan pundamental munculnya berbagai jenis medium komunikasi verbal dalam tatanan kehidupan etnis Sasak. Pertama adalah sebagai bukti bahwa di wilayah ini (Gumi Sasak) telah terjadi pertemuan berbagai ragam peradaban Besar Nusantara, yang oleh etnis Sasak persilangan peradaban itu didokumentasikan dalam bentuk pengadopsian simbol-simbol peradaban suku bangsa tersebut, dalam hal ini bahasa dan aksaranya. Sekadar catatan, bahwa dalam sistem tatatulis Etnis Sasak, di samping  dikenal aksara Arab-Melayu, juga terdapat aksara Jejawen (Ha-Na-Ca-Ra-Ka). Kedua, persilangan budaya yang berlanjut pada upaya pengadopsian simbol-simbol peradaban tersebut, hanya dimungkinkan jika  terjadi  pengamalan satu kata konci, yaitu keterbukaan. Mungkin inilah salah satu alasan, seorang sarjana berkebangsaan Belanda: Prof. A. Teeuw, memilih bahasa Sasak untuk memulai pilot proyek pemetaan bahasa-bahasa di Indonesia, bukan memulai dari Aceh seperti yang dilakukan rekan sebangsanya: Snock Horgronye. Teeuw sudah membaca bahwa etnis Sasak adalah etnis yang memiliki keterbukaan, yang akan siap menerimanya, walaupun dia menyadari bahwa dirinya berasal dari bangsa yang telah membuat etnis-etnis yang ada di Nusantara ini, termasuk etnis Sasak, menderita akibat dari penjajahan oleh bangsanya yang berkepanjangan. Keterbukaan ini pula yang menyebabkan bahasa Sasak kaya akan variasi dialektal, seperti munculnya varian: a~a: apa, mata, mama; varian a~e: ape, mate, mame; varian: e~e: epe, mete, meme; varian a~o: apo, mato, mamo dsb., yang masing-masing bermakna ‘apa, mata, dan laki-laki’, dan kesemuanya menyimpan makna historis bagi perjalan umat manusia di pulau ini.

Lalu bagaimana dengan etnis Samawa? Dalam menyoroti etnis ini saya terkesimak pada sebuah bentuk sastra lisan tradisional Lawas, yang bunyinya:/mana tau barang kayuq/, /lamin to sanyaman ate/, /yanansi sanak parana/, terjemahan bebasnya: Siapa pun orangnya, jikalau dapat membawa ketentraman hati, itulah dia sanak saudara. Ungkapan ini memberi pemaknaan kontekstual pada kereleaan untuk hidup dengan siapa saja, dari mana pun asalnya, yang penting kehadiran orang itu dapat membawa ketenangan hati.  Ketenangan hati bukan hanya ditekankan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk diri  yang lain yang berkontak dengannya. Sekali pihak lain memberikan ketenangan hati (kebaikan), maka tau Samawa akan membalasnya melebih dari kondisi yang diberikan padanya. Hal ini terungkap, dalam Lawas: /Na pendiq lamin sakendiq/, /Na sayang lamin sa(i)ate/, /Ate rusak parana do/. Terjemahan bebasnya: ‘Jangan menaruh kasih jika tidak sungguh-sungguh, jangan menyayangi jika hanya setengah hati, karena akhirnya jiwa akan merana’. Demikian pentingnya konsep ketenangan (hati) bagi tau Samawa, maka tidak heran jika dalam bahasa Samawa ditemukan tidak kurang dari 60 buah istilah yang salah satu unsur pembentuknya adalah  kata “hati”. Hati adalah konsep kunci bagi tau Samawa, ia akan selalu terbuka terhadap bentuk-bentuk pembaharuan apa pun wujudnya termasuk siapa pun pembawanya.

Pemaknaan yang demikian itu lalu membawa saya pada suatu realita kehidupan heterogintas di Tanaq Samawa, misalnya ditemukannya perkampungan etnis yang hidup berdampingan secara damai. Misalnya, di kecamatan Taliwang, ibukota Sumbawa Barat sekarang ini.  Di wilayah ini paling tidak ditemukan ada empat etnis yang berbaur menjadi satu, dengan tetap memiliki identitas keetnisannya masing-masing, yaitu etnis Samawa (Taliwang itu sendiri), etnis Arab, Bugis (Selayar), dan Etnis Bajo.  Biasanya di tempat lain kita menemukan penamaan kampung/desa yang menyerupai nama etnis tertentu, namun sesungguhnya di tempat itu tidak ditemukan ciri-ciri yang menandai komunitas itu sebagai sebuah etnis yang tersendiri, sebagai contoh   ambil saja nama Kediri yang terdapat di Lombok Barat yang kadang-kadang dihubungkan dengan nama Kediri di Jawa Timur namun tidak menunjukkan penduduknya menggunakan bahasa Jawa dan beberapa nama lainnya yang serupa.

Terkait dengan persoalan di atas dan meskipun dalam   penampakannya yang berbeda, antara wujud pengekspresian nilai keterbukaan pada etnis Sasak dengan etnis Samawa, namun bukti-bukti itu mengusung satu nilai kultural yang sama, yaitu nilai untuk saling memahami satu sama lain. Suatu nilai dasar yang menjadi esensi dari hakikat dijadikannya sesuatu dalam bentuk yang beroposisi, berlawanan, dan yang menjadi syarat bagi munculnya keheterogenitasan itu sendiri. Dalam pada itu pula, kesamaan nilai yang diusung di atas  menjadi salah satu evidensi yang dapat membuktikan kebenaran hipotesis kajian Linguistik Historis Komparatif yang menyatakan bahwa Etnis Sasak dan Etnis Samawa adalah dua etnis yang berasal dari satu etnis purba yang belum lama berpisah.

Apabila keterbukaan, yang sekaligus menjadi prasyarat munculnya kondisi saling memahami, sehingga hakikat keberadaan sesuatu (termasuk manusia) di muka bumi ini bukan   dalam wujud yang  homogin tetapi heterogin, maka persoalannya sekarang, mampukah kedua etnis ini menjadi contoh sekaligus pendorong bagi munculnya kehidupan pluralis (heterogin) yang harmonis di wilayah?  Jawabannya, sekarang ini, ada pada kita semua.