PENYUSUNAN DISAIN PENELITIAN

Oleh: Prof. Mahsun

             Adanya dua wujud tanggapan manusia terhadap realitas alamiah, yaitu di samping ia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang statis, ia juga mengamati alamnya sebagai sesuatu yang berubah dan berkembang atau sebagai sesuatu yang dinamis merupakan salah satu penyebab munculnya persoalan, yang mendorong manusia untuk selalu mencari jawabannya. Pencarian jawaban itu dilakukannya  melalui penelitian terhadap realitas alamiah yang memunculkan persoalan tersebut. Dengan demikian, penelitian tidak lain adalah ihtiar manusia yang dilakukan dalam upaya pemecahan masalah yang dihadapi.

            Namun, patut dicatat bahwa tidak semua kegiatan yang dilakukan untuk memecahkan masalah disebut penelitian. Hal ini sangat tergantung pada jenis masalah yang ingin dicari jawabannya serta prosedur (cara) yang digunakan dalam pemecahan masalah tersebut. Apabila masalah yang ingin dicari jawabannya itu merupakan masalah biasa dan prosedur pemecahannya dapat dilakukan secara langsung, seperti seseorang yang ingin mengetahui penyebab kakinya terasa sakit bila berjalan, karena duri yang tertusuk ke dalam kakinya masih tertinggal, tidak dapat dikategorikan sebagai penelitian ilmiah. Oleh karena itu, untuk mengetahui apa yang menyebabkan kakinya terasa sakit dapat dilakukan secara langsung dengan mengeluarkan duri yang masih tertinggal di dalam kakinya itu.

            Penelitian ilmiah, seperti yang dinyatakan oleh Kerlinger (1993) adalah penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap proposisi-proposisi hipotetis tentang hubungan yang diperirakan terjadi antargejala alam.

            Sebagai penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis, maka penelitian ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan yang terencana. Mulai dari identifikasi masalah (termasuk menjelaskan masalah itu secara cermat dan terinci, penyeleksian dan penentuan variabel-variabel dan instrumen-instrumen yang akan digunakan); menghubungkan masalah tersebut dengan teori-teori yang ada; penyediaan, analisis, dan interpretasi data; sampai pada penarikan kesimpulan serta menggabungkan kesimpulan-kesimpulan tersebut ke dalam khasanah ilmu pengetahuan. Dengan demikian, rekomendasi yang diajukan benar-benar didasarkan pada temuan (bukti-bukti empiris).

            Sebagai kegiatan yang terencana, maka sebelum penelitian dilakukan terlebih dahulu dipersiapkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam bentuk disain penelitian. Disain penelitian tidak lain adalah suatu bentuk karya tulis yang digunakan untuk mempersiapkan suatu rencana penelitian dengan maksud memudahkan pelaksanaan penelitian.

           Disain penelitian, untuk setiap badan penyandang dana, biasanya memiliki format tertentu yang berbeda satu sama lain dan harus dituruti oleh pencari dukungan dana (peneliti). Untuk jelasnya bandingkan format disain penelitian yang dikeluarkan Dijen Dikti Depdikbud (fomat Hibah Bersaing) dengan yang dikeluarkan oleh Dewan Riset Nasional (Format Riset Unggulan Terpadu), seperti terlihat pada lampiran. Namun demikian, sekalipun format dan cara penyajian disain penelitian berbeda-beda bergantung ketentuan badan pemberi dana, secara garis besarnya memuat hal-hal yang berkait dengan: judul penelitian, latar belakang masalah, perumusan masalah, Hipotesis, tinjauan pustaka dan kerangka teori, metodologi penelitian, jadwal pelaksanaan, personalia penelitian, perkiraan biaya penelitian, dan lampiran-lampiran yang memuat: daftar pustaka dan curriculum vitae peneliti.

Judul Penelitian

             Judul penelitian, merupakan topik singkat, spesifik, dan jelas yang menggambarkan penelitian yang akan dilakukan. Judul penelitian hendaknya tidak memuat singkatan atau simbol-simbol.

Latar Belakang Masalah

             Latar belakang masalah berisi uraian (fakta-fakta) yang relevan dengan rumusan masalah. Fakta-fakta itu dikemukakan agar dapat memberikan landasan sebelum memasuki perumusan masalah. Latar belakang masalah ini juga merupakan justifikasi mengenai pentingnya penelitian atau mengapa penelitian dengan judul tertentu itu dilakukan, dalam kaitannya dengan permasalahan yang lebih luas. Pentingnya penelitian dapat dilihat dari perkembangan  ilmu pengetahuan atau permasalahan praktis; dapat pula dilihat dari skala nasional atau dikaitkan dengan kebijakan mutakhir yang sedang menjadi permasalahan dalam konteks pembangunan nasional.

Perumusan Masalah

             Selanjutnya, dalam uraian Perumusan Masalah, dipaparkan  berbagai masalah yang akan diteliti yang disampaikan dengan laras bahasa ilmiah sesuai dengan permasalahan dalam bidang ilmu pengetahuannya. Seperti disebutkan di atas, bahwa pada dasarnya penelitian merupakan ihtiar manusia dalam upaya pemecahan masalah. Oleh karena itu, keberadaan suatu masalah merupakan syarat yang tidak dapat ditawar-tawar bagi pelaksanaan suatu penelitian. Tidak jarang kita mendengar keluhan-keluhan dari para mahasiswa (S1, S2, dan (S3) yang mengalami kesulitan dalam menemukan masalah yang dapat mereka teliti sebagai karya tulis akhir.

McGuigan (dikutip dari Sevilla dkk., 1993:4) menyatakan bahwa setidak-tidaknya ada tiga keadaan yang dapat memunculkan masalah, yaitu:

a. Apabila ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam   pengetahuan kita;

b. Apabila ada hasil-hasil (penelitian) yang bertentangan; dan

c. Apabila ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskannya melalui penelitian.

 Ketiga keadaan tersebut, apabila dikaitkan dengan penemuan masalah dalam penelitian bahasa maka penjelasannya dapat disajikan berikut ini.

            Untuk keadaan (a), yang dimaksudkan dengan kesenjangan adalah kesenjanagan antara teori yang diketahui dengan bukti-bukti empiris yang teramati. Dalam hal ini, teori linguistik tertentu adakalanya cocok untuk bahasa-bahasa tertentu dan kurang cocok untuk bahasa (-bahasa) tertentu lainnya. Sebagai contoh, teori tentang satuan lingual kata dan afiks (morfem terikat). Secara teoretis, perbedaan di antara keduanya terletak pada: yang pertama (satuan lingual kata), berpotensi untuk dituturkan terisolasi dari satuan lingual lainnya; sedangkan yang kedua ( satuan lingual afiks), tidak memiliki potensi demikian. Oleh karena ketergantungannya begitu besar pada satuan lingual lain, identitas fonetisnya sering (tidak selalu dan mutlak) ditentukan oleh satuan lingual yang menjadi tempat ketergantungannya itu. Realisasi afiks {meN-} dalam bahasa Indonesia, misalnya dapat berwujud: /me-/, /mem-/, /men-/, /meny-/, /meng-/, dan /menge-/ masing-masing pada: memakan, membeli, mendatang, menyurati, mengganggu, dan mengebom dll., tergantung pada fonem awal bentuk dasar dan jumlah silabe (untuk realisasi {meN-} menjadi /menge-/) satuan lingual yang menjadi bentuk dasarnya.

            Konsep teoretis tentang satuan lingual kata dan afiks di atas, apabila dikaitkan dengan satuan lingual {i} dalam salah satu dialek bahasa Sumbawa (BS), dialek Jereweh, sebagai bukti empirisnya, seperti pada data berikut ini:

maka akan dapat memunculkan masalah yang cukup menarik untuk diteliti. Setidak-tidaknya berdasarkan teori di atas dapat dipersoalkan apakah satuan lingual {i} pada data (1) dan (2) tersebut disebut sebagai satuan lingual, masing-masing: kata atau afiks, afiks dan kata, atau kedua-duanya sebagai afiks atau kata?  Masih dapat dipersoalkan kembali, jika satuan lingual {i} pada data (2) disebut kata (preposisi) misalnya, karena di antara satuan lingual itu dengan satuan lingual yang mengikutinya dapat disisipkan satuan lingual lainnya, seperti  bo ‘atas’ pada konstruksi im-bale ‘di rumah’ menjadi im-bo bale ‘di atas rumah’, yaitu bagaimana memperlakukan satuan lingual tersebut dalam ortografi? Apakah akan ditulis serangkai atau terpisah dari satuan lingual yang mengikutinya ? Lebih jauh tentang hal ini dapat dilihat pada Mahsun (1988).

          Apa yang dapat dikemukakan dari uraian di atas adalah masalah yang dapat diteliti akan muncul, jika pengetahuan teoretis yang diketahui oleh calon peneliti dikaitkan dengan penggunaan bahasa tertentu dan dari pengaitan itu terdapat kesenjangan antara teori dengan bukti empiris (penggunaan bahasa tertentu itu). Prospek penemuan masalah penelitian berdasarkan keadaan (a) di atas sangat dimungkinkan, karena sejauh ini teori-teori linguistik yang dikembangkan sering dilandaskan pada bahasa-bahasa tertentu (sejauh bahasa yang dapat dijangkau oleh si linguis yang mengajukan teori tersebut), yang kadang kala kurang cocok untuk diterapkan pada bahasa lain yang tidak setipe dengan bahasa yang dijadikan dasar dalam membangun teori itu. Lebih jauh, penelitian yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang muncul dari keadaan (a) sangat bermanfaat bagi pengembangan teori linguistik, baik dalam pengertian perluasaan teori yang telah ada maupun penciptaan teori baru.

       Untuk keadaan (b) dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama-tama marilah kita tentukan terlebih dahulu, bahwa adanya hasil-hasil (penelitian) yang bertentangan setidak-tidaknya mengandung dua pengertian, yaitu:(1) terjadi pertentangan antara hasil penelitian yang satu dengan hasil penelitian yang lain, yang objek sasarannya berupa bahasa dan aspek kebahasaan yang diteliti sama; dan (2) terjadi pertentangan antara hasil penelitian dengan bukti-bukti empiris, yang berupa pemakaian bahasa yang sesungguhnya.

Pada pengertian yang kedua di atas dapat terjadi pada sebuah penelitian, sedangkan pada pengertian yang pertama setidak-tidaknya terjadi pada dua buah penelitian.

         Apabila yang kita jumpai adalah keadaan (1), maka kita dapat melakukan penelitian yang sama dengan yang dilakukan pada kedua penelitian itu (jika hanya terdapat dua buah penelitian dengan objek dan bahasa yang sama) dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat pada kedua penelitian terdahulu. Untuk keperluan itu, dapat dilakukan misalnya mengamati teori, metode, dan sumber data yang digunakan pada kedua penelitian tersebut. Sebagai contoh, penulis telah melakukan penelitian yang berkaitan dengan bidang dialektologi dengan objek sasaran bahasa Sumbawa untuk disertasi doktornya di Universitas Gadjah Mada, padahal sebelumnya terdapat dua buah penelitian yang serupa, yang dilakukan oleh Sukartha dkk. (1985) dan Herusantoso dkk. (1987).

         Kedua penelitian itu, hasilnya bertentangan satu sama lain. Penelitian yang pertama tidak berhasil menunjukkan jumlah dialek/ subdialek yang terdapat dalam bahasa Sumbawa, sedangkan penelitian yang kedua, meskipun sumber datanya dan metodenya kurang dapat dipertanggungjawabkan, namun berhasil menunjukkan jumlah dialek/subdialek yang terdapat dalam bahasa sasaran. Lebih jauh tentang kritik terhadap kedua penelitian tersebut dapat dilihat dalam Mahsun (1994a).

          Selanjutnya, apabila yang dijumpai itu adalah keadaan (2), maka kita dapat melakukan penelitian yang sama dengan yang pernah dilakukan, tentu dengan catatan melakukan perbaikan pada metode yang digunakan serta penentuan dan pemilihan sumber data yang representatif.

          Untuk keadaan (c), penjelasannya dapat dikemukakan berikut ini. Dalam kaitan dengan penelitian bahasa, keadaan (c) berhubungan dengan suatu kondisi peneliti menemukan bahasa tertentu atau aspek tertentu dari bahasa tertentu yang belum pernah diteliti. Kita dapat mengangkat hal itu sebagai masalah untuk diteliti, sebagai contoh, kita menemukan (mengetahui) sebuah bahasa (bahasa A) belum pernah diteliti atau masih terdapat aspek-aspek tertentu dari bahasa tersebut yang belum diteliti. Dalam keadaan yang demikian, kita dapat mencari aspek tertentu dari bahasa A itu yang menarik untuk diteliti. Mungkin dari aspek yang berkaitan dengan linguistik umum, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, atau pragmatik; atau dapat berupa aspek yang berkaitan dengan dialektologi, sosiolinguistik, etnolinguistik dll.

         Namun, untuk sampai pada keadaan yang dikemukakan oleh McGuigan, peran membaca buku-buku, jurnal-jurnal, atau hasil-hasil penelitian terdahulu mutlak diperlukan, karena di dalamnya tersajikan teori-teori sebagai hasil temuan penelitinya. suatu hal yang patut dicatat, bahwa sudah menjadi kesepakatan suatu teori menampilkan generalisasi dan prinsip-prinsip yanag dapat menjadi sasaran penelitian. Adanya studi tertentu yang disarankan untuk diteliti,  biasanya terdapat pada kesimpulan sebuah laporan penelitian: skripsi, tesis, disertasi, ataupun dalam wujud lainnya, menunjukkan bahwa seperangkat generalisasi atau prinsip-prinsip telah dirangkaikan dalam sebuah teori dan itu dapat diangkat sebagai masalah untuk diteliti.

Dalam upaya melatih ketrampilan mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penelitian bahasa beberapa kegiatan berikut ini dapat diterapkan:

(a) Membaca sebanyak mungkin literatur yang berhubungan dengan masalah keba-hasaan dan bersikap kritis terhadap apa yang dibaca;

(b) Mengikuti kuliah-kuliah atau ceramah-ceramah dari para pakar;

(c) Mengamati situasi atau peristiwa kehidupan beragama yang ada di sekitar kita dan menghubungkannya dengan teori (ajaran agama) tertentu;

(d) Menghadiri seminar-seminar (diskusi) hasil penelitian; dan

(e) Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan mencatat hasil atau temuan yang diperoleh.

            Masalah yang hendak diteliti sebaiknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya dan bersifat spesifik. dikatakan sebaiknya, karena rumusan masalah dapat pula dinyatakan dalam bentuk kalimat deklaratif. Perumusan masalah seperti di atas dimaksudkan untuk dapat memberikan arahan yang lebih jelas pada pelaksanaan penelitian. sebagai contoh, kita hendak meneliti salah satu bidang kebahasaan tertentu, katakan bidang morfologi bahasa Sasak. Oleh karena yang hendak diteliti bidang morfologi, mungkin kita akan tergoda untuk secara gampang-gampangan merumuskan masalah yang hendak dijawab dalam penelitian tersebut sebagai: Bagaimanakah morfologi bahasa Sasak ? Rumusan masalah semacam ini terlalu luas dan sama sekali tidak memberikan arahan yang lebih jelas pada penelitian yang hendak dilakukan. Untuk itu, kita perlu membuat rumusan masalah secara spesifik yang menyangkut bidang morfologi itu sendiri.

            Dalam merumuskan masalah secara spesifik teori memainkan peran yang cukup penting, terutama memberi tahu tentang aspek-aspek kajian yang menyangkut bidang morfologi atau bidang lainnya yang akan diteliti. Dari teori dapat diketahui misalnya, aspek kajian morfologi itu menyangkut afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan morfofonemik dll. Berdasarkan hal itu, selanjutnya dapat ditentukan aspek mana dari keseluruhan aspek kajian bidang morfologi tersebut yang akan diteliti. Mungkin kita akan memilih beberapa aspek saja atau keseluruhan dari aspek kajian bidang morfologi itu sendiri. Namun, untuk sekadar penjelasan, katakan saja kita hendak meneliti (mengkaji) aspek afiksasi dan reduplikasi. Dengan demikian, dapat dirumuskan masalah yang akan diteliti yanag berkaitan dengan bidang morfologi bahasa Sasak tersebut langsung menjurus ke aspek-aspek yang ingin diteliti, misalnya:

(1) Jenis-jenis afiks dan reduplikasi apa saja yang digunakan dalam   pembentukan kata bahasa Sasak?

(2) Apakah fungsi dan makna tiap-tiap afiks dan tipe reduplikasi tersebut ?

Hipotesis Penelitian

Setelah masalah yang akan diteliti dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah memulai memperkirakan hasil-hasil yang dapat dicapai melalui penelitian itu. Dengan kata lain, kita mulai membuat rumusan jawaban yang sifatnya sementara terhadap masalah yang hendak diteliti. Jawaban sementara terhadap masalah yang hendak diteliti disebut hipotesis (bandingkan Gay, 1976 dengan  Sudaryanto, 1986).

Sebagai jawaban yang sifatnya sementara, maka hipotesis haruslah memiliki sifat-sifat:

(1) hipotesis dirumuskan dalam bentuk kalimat deklaratif (pernyataan). Sebagai contoh, hipotesis yang dapat diajukan sehubungan dengan masalah yang diteliti untuk bidang morfologi bahasa Sasak di atas adalah:

(a) Afiks-afiks yang digunakan dalam pembentukan kata bahasa Sasak dapat dikelompokkan atas afiks yang berupa prefiks, infiks, sufiks, dan dari afiks-afiks itu ada yang derivatif dan  ada yang inflektif; sedangkan reduplikasi yang digunakan dapat dikelompokkan atas reduplikasi utuh, sebagian, berimbuhan, dan berubah bunyi; serta dari masing-masing tipe reduplikasi itu ada yang derivatif dan ada yang inflektif.

 (b) Tiap-tiap afiks dan tipe-tipe reduplikasi tertentu memiliki fungsi dan makna tertentu sesuai dengan bentuk dasar yang dikenai oleh proses afiksasi dan reduplikasi tersebut.

(2) Hipotesis harus dapat diuji;

(3) Hipotesisi harus masuk akal, artinya mengemukakan penjelasan yang masuk akal (reasonable explanation) dari kejadian-kejadian yang telah dan akan terjadi. Hubungan antara variabel-variabel harus dinyatakan dengan istilah yang jelas (pasti), sehingga variabel-variabel tersebut dapat diukur.

Ada beberapa cara pengungkapan hubungan antarvariabel, misalnya: (a) pengungkapan hubungan sebab-akibat, (b) pengungkapan hubungan korelasional, dan (c) pengungkapan hubungan pengukuran perbedaan.

Sehubungan dengan sifat (a) dari suatu hipotesis biasanya digunakan dalam penelitian yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa (pengajaran bahasa) dan sosiolinguistik. Sebagai contoh akan dikemukakan berikut ini. Sebuah penelitian yang berkaitan dengan pengajaran bahasa dimungkinkan untuk dilakukan apabila ditemukan kenyataan terdapat perbedaan kemampuan membaca antara mahasiswa yang mengikuti dengan yang tidak mengikuti mata kuliah ketrampilan membaca. Dari kenyataan itu dapat dilakukan penelitian dengan membuat hipotesis melalui ketiga cara pengungkapan hubungan antarvariabel tersebut. Kita akan membuat hipotesis dalam bentuk (a) apabila kita berasumsi bahwa pemberian mata kuliah ketrampilan membaca pada mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan membaca; dalam bentuk (b), apabila kita berasumsi bahwa tingginya kemampuan membaca mahasiswa ada korelasinya  dengan pemberian mata kuliah ketrampilan membaca; dan dalam bentuk (c), apabila kita berasumsi bahwa terdapat perbedaan kemampuan membaca antara dua kelompok mahasiswa, kelompok yang mengikuti dan kelompok yanag tidak mengikuti mata kuliah ketrampilan membaca. Dalam penelitian sosiolinguistik misalnya,  dapat diamati data yang dikumpulkan oleh Susan Kooning tentang bentuk sangkalan ganda (multiple negation) bahasa Inggris yang menunjukkan skor yang berbeda menurut jenis kelamin (pria dan wanita) dan ras (kulit putih dan kulit hitam). Penelitian yang diilhami oleh Labov (1972) tentang sangkalan ganda tersebut setidak-tidaknya dibimbing oleh hipotesis dalam bentuk (c) (periksa Anshen, 1982).

            Hipotesis, sebagai  jawaban sementara terhadap persoalan yanag diajukan dalam penelitian tidak hanya disusun berdasarkan pengamatan (awal) terhadap objek penelitian, melainkan juga didasarkan pada hasil kajian terhadap kepustakaan yang relevan dengannya. Kita dapat mengetahui dan menyatakan tentang konsep afiks tertentu (prefiks, infiks, dan sufiks) baik yang derivatif maupun yang inflektif; begitu pula tentang tipe-tipe reduplikasi tertentu yang diduga berlaku pada proses pembentukan kata bahasa Sasak di atas hanya, karena teorilah yang memperkenalkan pada kita. Sampai di sini, dapat dikatakan tidak hanya masalah yang dirumuskan berdasarkan teori, tetapi hipotessis sebagai jawaban (sementara) terhadap masalah yang diajukan itu pun dirumuskan berdasarkan teori (sudah tentu disertai pengamatan awal terhadap objek penelitian).

Selain itu, sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang ingin diteliti, maka hipotesis berfungsi:

1. Memperkenalkan peneliti untuk berpikir dari awal suatu penelitian. Dikatakan demikian, karena rumusan hipotesis tidak lain adalah pernyataan masalah secara spesifik;

2. Menentukan tahap-tahap atau prosedur suatu penelitian, karena hipotesis tidak lain adalah rantai penghubung antara teori dan pengamatan (povides the link between theory and observation); dan

3. Membantu menetapkan bentuk untuk penyajian, analisis, dan interpretasi data dalam laporan penelitian (Sevilla dkk., 1993: 15-16).

Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori

            Tinjauan pustaka merupakan cuplikan isi bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah penelitian, berupa sajian hasil atau bahasan ringkas dari hasil temuan peneliti terdahulu yang relevan dengan masalah penelitian. Sedapat mungkin kepustakaan diambil dari sumber aslinya dengan menyebutkan sumber kepustakaan dan fakta-fakta dan temuan penelitian. Selanjutnya, fakta-fakta tersebut dihasa secara kritis dan logis, dan menghubungkannya dengan masalah yang akan diteliti.

            Tinjauan pustaka hendaknya dibedakan dengan kerangka teori. Pada kerangka teori termuat landasan konseptual tentang teori yang akan digunakan dalam mendekati permasalahan yang hendak diteliti. Kerangka konseptual tersebut dibangun dari hasil tinjauan pustaka terhada penelitian terdahulu yang relevan.

Metodologi Penelitian

            Metodologi penelitian berisi uraian tentang tahapan penelitian (jika penelitian itu dilaksanakan lebih dari satu tahap/ tahun) metode yang digunakan dalam setiap tahapnya, baik yang menyangkut metode yang digunakan untuk penyediaan data atau pun analisis data. Termasuk pula dalam uraian metodologi ini adalah populasi dan sampel penelitian, termasuk di dalamnya argumentasi penyamplingan.

 

 Jadwal Penelitian

            Untuk jadwal waktu pelaksanaan penelitian hendaknya direncanakan mulai dari persiapan sampai penyusunan laporan, bahkan sampai pengiriman laporan ke pihak penyandang dana. Untuk fleksibilitas pelaksanaan penelitian, penyusunan jadwal disarankan menggunakan urutan bulan atau minggu tanpa menyebutkan nama bulan.

Personalia Penelitian

            Kemudian untuk personalia penelitian benar-benar harus diperhatikan keahlian peneliti. Jangan sampai mengikutsertakan orang yang bukan bidangnya, karena hal ini akan sangat mempengaruhi penilaian penyandang dana tentang kemungkinan akan berjalannya penelitian tersebut.

Biaya Penelitian

             Perkiraan biaya penelitian dirinci sedemikian rupa sehingga dapat diketahui peruntukan alokasi biaya yang diusulkan. Biaya penelitian seyogyanya sesuai dengan rencana kegiatan sebagai penjabaran dari metode penelitian. Rekapitulasi penggunaan biaya penelitian, meliputi beberapa hal sebagai berikut: persiapan, operasional, seminar rancangan dan hasil penelitian, penyusunan laporan hasil penelitian, dan penggandaan laporan hasil penelitian.

Daftar Pustaka 

Daftar pustaka memuat kepustakaan yang benar-benar diikuti dan digunakan. Terdapat berbagai macam cara menuliskan daftar kepustakaan, di ataranya, misalnya sebagai berikut:

 

Dyen, Isidore. 1965. “The Austronesian Languages and Proto-Austronesian”. Current Trends in Linguistics 8: 5-54.

Herusantoso, Suparman dkk. 1987.  “Pemetaan Bahasa-Bahasa di Nusa Tenggara Barat”. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Mahsun. 1995. Dialektologi Diakronis: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mbete, Aron Meko. 1990. “Rekonstruksi Protobahasa Bali-Sasak-Sumbawa’. Jakarta: Universitas Indonesia (Disertasi Doktor).

McMahon, April, M.S. 1994. Understanding Language Change. Cambridge: Cambridge University.

Nothofer, Bernd. 1981. Dialekktatlas von Zentral-Java. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.

Petyt, K.M. 1980. The Study of Dialect: An Introduction  Dialectology. London: Andre Deutsch Limited.

Teeuw, A. 1951.  Dialekt-Atlas van/ of Lombok. Jakarta: Biro Reproduksi Djawatan Tofografi.

 

Curriculum Vitae

            Curriculum vitae  berisi uraian pengalaman pada bidang penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya dari peneliti utama dan anggota peneliti secara ringkas dan jelas. Tidak semua kegiatan penelitian taua ilmiah yang pernah dilakukan peneliti harus didaftarkan tetapi cukup yang relevan dengan bidang yang akan diteliti.



* Makalah yang disajikan sebagai materi Pelatihan Metode Penelitian di Kampus STAIN Mataram tanggal 11-13 Juni 1998