A. Pengalaman Penelitian
B. Publikasi Ilmiah dalam Jurnal Jurnal
Deskripsi isi Video
Berbagai bukti sejarah telah menunjukkan bahwa kemajuan suatu masyarakat (bangsa) tidak dapat dilepaskan dari kemajuan IPTEK. Kemajuaan peradaban yang dicapai pada masa kejayaan Islam pada masa lampau, misalnya, tidak lepas dari kemampuan para intlektual muslim dalam menyerap, mengadopsi, lalu mengembangkan ilmu pengetahuan yang berkembang di Yuni Kuno melalui telaah-telaah kritis. Begitu pula kemajuan peradaban yang dicapai bangsa-bangsa Eropa dan Amerika sekarang ini juga tidak lepas dari kemampuan mengembangkan tradisi ilmu pengetahuan Yunani Kuno tersebut.
Sementara itu, ilmu pengetahuan berkembang atas kemampuan mengamati, menyelidiki fenomena alam, karena objek dari segala macam ilmu adalah alam semesta. Formulasi atas hukum-hukum yang mengatur dan menandai keberadaan fenomena alam, sebagai hasil pengamatan, merupakan wujud dari ilmu pengetahuan. Pemahaman atas huku-hukum yang mengatur segala alam semesta ini memungkinkan manusia dapat memainkan peran kekhalifahannya dengan baik.
Indonesia, sebagai salah satu negara yang memiliki wilayah cukup luas dengan keberagaman fenomena alam di dalamnya, dengan sendirinya kaya akan sesuatu yang dapat menjadi objek ilmu pengetahuan. Namun, sayangnya kondisi yang demikian itu, tidak lalu menyebabkan Indonesia menjadi negara yang memiliki peradaban tinggi dengan kemajuan IPTEK yang gemilang. Kondisi ini, mengingatkan kita akan ungkapan “Bagai ayam yang mati kelaparan di lumbung yang berisi padi”. Ironis memang, bagaimana ayam itu dapat mati kelaparan padahal di sekitarnya terdapat kelimpahan bahan makanan. Setidak-tidaknya ada dua hal yang dapat ditarik sebagai pengandaian dari kondisi di atas. Pertama, ayam itu mati kelaparan karena dia tidak tahu kalau padi itu adalah bahan makanan; kedua, ayam itu tahu kalau padi adalah bahan makanan, namun dia tidak tahu bagaimana cara memakannya. Pengandaian yang pertama, dapat dirujuk pada kondisi masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan/teori tentang sesutu yang dapat dijadikan objek ilmu pengetahuan, sebagaimana ayam tidak memiliki teori/pengetahuan tentang padi yang dapat dijadikan bahan makanan; sedangkan pengandaian kedua dapat dirujuk pada kondisi masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan metodologis, tentang cara bagaimana objek ilmu itu didekati lalu dianalisis sehingga dapat disusun/diformulasikan hukum-hukum yang mengatur dan menandai keberadaannya, sebagaimana ayam tidak tahu bagaimana cara memakan padi meskipun dia tahu kalau padi itu adalah bahan makanan dan tersedia di sekitarnya dalam keberlimpahan.
Mengingat dunia teoretis dibangun atas dasar fakta lapangan, maka peran metode menjadi sangat sentral. Mungkin ada benarnya, apa yang dikatakan Thomas Kuhn, bahwa revolusi dalam ilmu pengetahuan hanya dimungkinkan jika telah terjadi revolusi paradigma. Sementara itu, paradigma menjadi tuntunan dalam penetapan pendekatan/metode. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa revolusi ilmu pengetahuan hanya dimungkinkan jika telah terjadi revolusi dalam metode. Metode mampu membuat manusia berpikir sistematis, terencana, teratur, dan terkontrol, karena metode sedarai awal telah memandu seseorang dalam mendesain cara mendekati, mengumpulkan fenomena yang menjadi objeknya, serta menuntun bagaimana objek itu dianalisis, sehingga dapat diidentifikasi hukum-hukum yang mengatur keberadaan objek tersebut. Namun, sayangnya kemampuan metodologis yang dimiliki masyarakat (ilmuan) di Indonesia relatif kurang memadai, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan di negara yang kaya akan fenomena alam ini kurang menggembirakan. oleh karena itu, diperlukan upaya yang sistematis untuk mengembangkan kemampuan metodologis pada anak bangsa sedini mungkin, sehingga setiap tindakan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa-masa mendatang selalu dilandasi oleh suatu cara berpikir sistematis, teratur, terencana, dan terkontrol. Dengan kata lain, perlu ditumbuh-kembangkan budaya IPTEK di kalangan anak bangsa sedari awal, mulai dari jenjang pendidikan lanjutan (SLTP dan SLTA), bukan setelah mereka menduduki bangku kuliah seperti yang berlangsung saat ini.
Setakat ini, kurikulum pada jenjang pendidikan lanjutan belum dapat secara memadai memberi bekal pada siswa untuk dapat berpikir metodologis sebagai cerminan kepemilikan IPTEK. Hal ini disebabkan beban mata pelajaran yang terlalu banyak, sehingga waktu khusus untuk membekali siswa ihwal metode ilmu pengetahuan belum dapat disediakan. Dalam pada itu, kegiatan lomba karya tulis remaja secara nasional terus digalakkan bahkan Kementerian Negara Riset dan Teknologi beberapa tahun yang lalu pernah meluncurkan suatu program riset remaja, yang waktu itu diberi nama RUR (Riset Unggulan Remaja). Meskipun kondisi itu telah diciptakan, namun animo/keterlibatan para remaja kita, yang nota bene masih berada di jenjang pendidikan lanjutan itu, masih kurang. Faktor penyebabnya, ialah kemampuan metodologis yang masih kurang sehingga sulit menemukan masalah yang hendak dikaji dari objek ilmu yang berlimpah itu.
Kemajuan IPTEK suatu bangsa tentu tidak serta merta dapat mengangkat derajad bangsa itu keposisi yang lebih tinggi jika tanpa dilandasi keimanan. Berbagai bukti sejarah juga menunjukkan suatu bangsa yang hancur karena keunggulan IPTEK yang tidak dilandasi keimanan. Kecongkakan dan kesombongan dapat menyertai kemajuan IPTEK yang tidak disertai keimanan, yang pada gilirannya, keunggulan dalam bidang IPTEK yang tidak disertai keimanan itu justeru mengantar bangsa itu pada jurang kehacuran. Sebagai contoh, suku bangsa Firaun, dibinasakan karena kesombongan dan kecongkakan atas kempemilikan IPTEK yang tinggi namun tidak disertai keimanan. Iman adalah cahaya yang akan menerangi perjalanan keberfungsian IPTEK dalam kehidupan manusia.
Oleh karena itu, Institut Riset Nusantara, membuka kesempatan pada anak muda bangsa untuk mengembangkan kemampuan berpikir metodologis yang dilandasi nilai-nilai keagamaan, dalam mencapai derajad manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan.
VISI
MISI
Untuk mencapai visi di atas, IRN mengemban misi:
©2025 Prof. Dr. Mahsun, M.S. All Rights Reserved