Publikasi Ilmiah dan Penelitian

A. Pengalaman Penelitian

  1. Pengembangan Materi Muatan Lokal yang Berdoimensi Kebhinnekatunggalikaan dan Pengajarannya: Penyusunan Materi Muatan Lokal Bahasa Sasak dengan Memanfaatkan Variasi Bahasa yang Berkerabat (Ketua), pada tahun 1996/1997-1998/1999, yang Didanai melalui Program Riset Unggulan Terpadu  (RUT) V, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, BPPT
  2. Kesepadanan Adaptasi Linguistik dengan Adaptasi Sosial pada Penutur Bahasa Sasak, Bali, dan Sumbawa di Pulau Lombok-NTB: Ke Arah Pengembangan Model Resolusi Konflik di Wilayah Pakai Bahasa yang Berbeda (Ketua) pada tahun 2005-2006, yang Didanai melalui Program Riset Unggulan Kemasyarakatan dan Kemanusiaan (RUKK) VI,, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, BPPT,
  3. Aktualisasi Budaya Lokal dalam Pembentukan SDM Pariwisata yang Unggul dan Inovatif untuk MendukungPercepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia di Koridor V, (Ketua) , pada tahun 2011-2013, yang didanai melalui Program Penelitian Prioritas Nasional MP3EI, Dikti.
  4. Penelitian Pemetaan dan Kekerabatan Bahasa-Bahasa di Indonesia (Ketua), 2006-2015, yang dibiayai oleh DIPA Pusat Bahasa (sekarang Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, RI)
  5. Bahasa Genom: Analisis Keberagaman Varian Bahasa dan Genom Virus Hepatitis B pada Penutur Bahasa di Kawasan Timur Indonesia (Ketua), pada tahun 2008-2015, yang didanai melalui DIPA Pusat Bahasa (sekarang Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, RI)
  6. Kemampuan Memproduksi Teks Genre Sastra Dengan Metode Saintifik Pada Siswa Kelas SMA, SMK, dan MA di Kota Mataram, Ketua, pada tahun 2020, yang didanai melalui Program Penelitian Dasar Kompetitif (RTM-DPRM), Dikti
  7. Kemampuan Memproduksi Teks Eksposisi dengan Metode Saintifik Berbasis Proyek Siswa Sekolah Menengah Atas di Kota Mataram, Ketua, yang didanai melalui Program Penelitian Dasar Kompetitif, RTM-DPRM), DiktiPublikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal 5 Tahun Terakhir.

 

B. Publikasi Ilmiah dalam Jurnal Jurnal

  1. Homeland and Migration Process of South Halmahera Speaker, Penulis Kedua. Dimuat dalam Jurnal Dialectologia 34(2025), 39-53.Januari 2025, ISSN 2013-2247, DOI: 10.1344/DIALECTOLOGIA.34.2 Universitas Barcelona Spanyol (Q2)
  2. Exploring Types and Qualities of Teachers’ Implementation of AfL Strategies in Indonesian EFL Secondary Schools. Penulis ketiga, yang dimuat dalam Jurnal Asia-Pacific Education Review, Springer (Q1)https//doi.org/10.1007s40299-024-00897-2, 14 Agustus 2024
  3. CriticalDiscourse Analysi on Arvin’sCriticism on Deddy Corbuzier’s Youtube Channel, yang dimuat dalam Acuity:Journal of EnglishLanguage Pedagogy, Literature, and Culture, https//jurnal.unai.edu./index.php/acuity, Vol. Vol. 10, No.2,2025
  4. Pemertahanan Bahasa Bali di Kabupaten Lombok Barat, Penulis Kedua, yang dimuat dalam Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 13, No, 2, 2023, Sinta 2
  5. Genre-Based Indonesian Language Learning Scientific Approach and Methode, yang dimuat dalam Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Pembelajaran, 9 No.2, June 2023  Undikma Mataram (Sinta 2), E-ISSN: 2442-7667pp: 570-580
  6. Genolinguistik: Ancangan Alternatif dalam Pengelompokan Bahasa, yang dimuat dalam Jurnal Metalngua, Balai Bahasa Jawa Barat, 18, No. 21, 2020,  (Sinta 2)
  7. The Complexity of Phonological Changes of Southern Halmahera Languages. Penulis ketiga, yang dimuat dalam Dialectologia 22 (2019), 1-16, 22, June 2019 Universitas Barcelona, Spanyol (Scopus, Q2)

 

Deskripsi isi Video

  1. Bahasa Indonesia (BI) untuk Indonesia pitar memuat dialog tentang bagaimana peran dan kedudukan bahasa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bagaimana upaya memperkaya daya ungkap bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa yang berperan mencerdaskan penuturnya
  2. Lembaga adat dan pelindungan bahasa berisi film dokumenter tentang peran bahasa Indonesia dan bahasa daerah serta bagaimana Lembaga Adat di Nusantara dapat mengambil peran dalam melindungi beragam bahasa lokal di Indonesia
  3. Kesepadanan Adaptasi Linguistik dan Adaptasi Sosial
    Film dokumenter yang menggambarkan dua komunitas yang berbeda bahasa dan keyakinan keagamaan, yaitu Hindu dan Muslim di Lombok melakukan adaptasi sosial. Film ini bagian dari riset yan memperlihatkan kesepadanan adaptasi sosial dengan adaptasi linguistik pada  komunitas multikultural yang hidup dalam tatanan harmoni.
  4. Tematik Terpadu
    Video yang memberi uraian dan argumentasi bagaimana peran bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan yang berperan sebagai sarana transmisi dari satu kompetensi ke kompetensi lainnya dalam mengembangkan materi pembelajaran tematik terpadu
  5. Olimpiade Literasi
    Video ini berisi tuntunan tentang model literasi sekolah yang bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir dan memperkuat budi perkerti  dengan 10 jenis mata lomba: Pina Karante, Satungku Karante, Bakarante, Ling Karante, Sategas Karante, Sesa Karante, Salin Karante, dan Bakedek Karante.

 

INFO INSTITUT RISET NUSANTARA

INSTITUT RISET NUSANTARA (IRNA = IRN)

Berbagai bukti sejarah telah menunjukkan bahwa kemajuan suatu masyarakat (bangsa) tidak dapat dilepaskan dari kemajuan IPTEK. Kemajuaan peradaban yang dicapai pada masa kejayaan Islam pada masa lampau, misalnya, tidak lepas dari kemampuan para intlektual muslim dalam menyerap, mengadopsi, lalu mengembangkan ilmu pengetahuan yang berkembang di  Yuni Kuno melalui telaah-telaah kritis. Begitu pula kemajuan peradaban yang dicapai bangsa-bangsa Eropa dan Amerika sekarang ini juga tidak lepas dari kemampuan mengembangkan tradisi ilmu pengetahuan Yunani Kuno tersebut.

Sementara itu, ilmu pengetahuan berkembang atas kemampuan mengamati, menyelidiki fenomena alam, karena objek dari segala macam ilmu adalah alam semesta. Formulasi atas hukum-hukum yang mengatur dan menandai keberadaan fenomena alam, sebagai hasil pengamatan, merupakan wujud dari ilmu pengetahuan. Pemahaman atas huku-hukum yang mengatur segala alam semesta ini memungkinkan manusia dapat memainkan peran kekhalifahannya dengan baik.

Indonesia, sebagai salah satu negara yang memiliki wilayah cukup luas dengan keberagaman fenomena alam di dalamnya, dengan sendirinya kaya akan sesuatu yang dapat menjadi objek ilmu pengetahuan. Namun, sayangnya kondisi yang demikian itu, tidak lalu menyebabkan Indonesia menjadi negara yang memiliki peradaban tinggi dengan kemajuan IPTEK yang gemilang. Kondisi ini, mengingatkan kita akan ungkapan “Bagai ayam yang mati kelaparan di lumbung yang berisi padi”. Ironis memang, bagaimana ayam itu dapat mati kelaparan padahal di sekitarnya terdapat kelimpahan bahan makanan. Setidak-tidaknya ada dua hal yang dapat ditarik sebagai pengandaian dari kondisi di atas. Pertama, ayam itu mati kelaparan karena dia tidak tahu kalau padi itu adalah bahan makanan; kedua, ayam itu tahu kalau padi adalah bahan makanan, namun dia tidak tahu bagaimana cara memakannya. Pengandaian yang pertama, dapat dirujuk pada kondisi masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan/teori tentang sesutu yang dapat dijadikan objek ilmu pengetahuan, sebagaimana ayam tidak memiliki teori/pengetahuan tentang padi yang dapat dijadikan bahan makanan; sedangkan pengandaian kedua dapat dirujuk pada kondisi masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan metodologis, tentang cara bagaimana objek ilmu itu didekati lalu dianalisis sehingga dapat disusun/diformulasikan hukum-hukum yang mengatur dan menandai keberadaannya, sebagaimana ayam tidak tahu bagaimana cara memakan padi meskipun dia tahu kalau padi itu adalah bahan makanan dan tersedia di sekitarnya dalam keberlimpahan.

Mengingat dunia teoretis dibangun atas dasar fakta lapangan, maka peran metode menjadi sangat sentral. Mungkin ada benarnya, apa yang dikatakan Thomas Kuhn, bahwa revolusi dalam ilmu pengetahuan hanya dimungkinkan jika telah terjadi revolusi paradigma. Sementara itu, paradigma menjadi tuntunan dalam penetapan pendekatan/metode. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa revolusi ilmu pengetahuan hanya dimungkinkan jika telah terjadi revolusi dalam metode. Metode mampu membuat manusia berpikir sistematis, terencana, teratur, dan terkontrol, karena metode sedarai awal telah memandu seseorang dalam mendesain cara mendekati, mengumpulkan fenomena yang menjadi objeknya, serta menuntun bagaimana objek itu dianalisis, sehingga dapat diidentifikasi hukum-hukum yang mengatur keberadaan objek tersebut. Namun, sayangnya kemampuan metodologis yang dimiliki masyarakat (ilmuan) di Indonesia relatif kurang memadai, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan di negara yang kaya akan fenomena alam ini kurang menggembirakan. oleh karena itu, diperlukan upaya yang sistematis untuk mengembangkan kemampuan metodologis pada anak bangsa sedini mungkin, sehingga setiap tindakan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa-masa mendatang selalu dilandasi oleh suatu cara berpikir sistematis, teratur, terencana, dan terkontrol. Dengan kata lain, perlu ditumbuh-kembangkan budaya IPTEK di kalangan anak bangsa sedari awal, mulai dari  jenjang pendidikan lanjutan (SLTP dan SLTA), bukan setelah mereka menduduki bangku kuliah seperti yang berlangsung saat ini.

Setakat ini, kurikulum pada jenjang pendidikan lanjutan  belum dapat secara memadai memberi bekal pada siswa  untuk dapat berpikir metodologis sebagai cerminan kepemilikan IPTEK. Hal  ini disebabkan beban mata pelajaran yang terlalu banyak, sehingga waktu khusus untuk membekali siswa ihwal metode ilmu pengetahuan  belum dapat disediakan. Dalam pada itu, kegiatan lomba karya tulis remaja secara nasional terus digalakkan bahkan  Kementerian Negara Riset dan Teknologi beberapa tahun yang lalu pernah meluncurkan suatu program riset remaja, yang waktu itu diberi nama RUR (Riset Unggulan Remaja). Meskipun kondisi itu telah diciptakan, namun animo/keterlibatan para remaja kita, yang nota bene masih berada di jenjang pendidikan lanjutan itu, masih kurang. Faktor penyebabnya, ialah kemampuan metodologis yang masih kurang sehingga sulit menemukan masalah yang hendak dikaji dari objek ilmu yang berlimpah itu.

Kemajuan IPTEK suatu bangsa tentu tidak serta merta dapat mengangkat derajad bangsa itu keposisi yang lebih tinggi jika tanpa dilandasi keimanan. Berbagai bukti sejarah juga menunjukkan suatu bangsa yang hancur karena keunggulan  IPTEK  yang tidak  dilandasi keimanan.  Kecongkakan dan kesombongan dapat menyertai kemajuan IPTEK yang tidak disertai keimanan, yang pada gilirannya,  keunggulan dalam bidang IPTEK yang tidak disertai keimanan  itu justeru mengantar bangsa itu pada jurang kehacuran. Sebagai contoh, suku bangsa Firaun, dibinasakan karena kesombongan dan kecongkakan atas kempemilikan IPTEK yang tinggi namun tidak disertai keimanan. Iman adalah cahaya yang akan menerangi perjalanan keberfungsian IPTEK dalam kehidupan manusia.

Oleh karena itu, Institut Riset Nusantara, membuka kesempatan pada anak muda bangsa untuk mengembangkan kemampuan berpikir metodologis yang dilandasi nilai-nilai keagamaan, dalam mencapai derajad manusia  yang beriman dan berilmu pengetahuan.

VISI

  1. Menjadikan Institut Riset Nusantara sebagai wahana pendidikan dan pelatihan anak bangsa agar memiliki kemampuan berpikir metodologis yang dilandasi nilai-nilai keagamaan, sehingga mencapai derajad insan yang beriman dan berilmu pengetahuan.
  2. Menjadikan Institut Riset Nusantara sebagai lembaga riset yang terkemuka dan menghasilkan anak bangsa yang cendekia, unggul, dan mandiri.
  3. Menjadikan Institut Riset Nusantara sebagai wahana pendidikan dan pelatihan yang menghasilkan anak bangsa yang cendekia, unggul,  mandiri dan sebagai lembaga riset yang terkemuka.

 

MISI

Untuk mencapai visi di atas, IRN mengemban misi:

  1. mengembangkan pendidikan dan pelatihan metodologis dalam berbagai bidang ilmu sesuai minat sehingga mampu merencanakan, mendesain, dan melaksanakan penelitian;
  2. mengembangkan pendidikan pada anak bangsa tentang nilai-nilai keagamaan yang dapat menjadi landasan moral-etik pengembangan IPTEK, sehingga menjadi insan yang memiliki keseimbangan antara penguasaan IPTEK dengan keimanan;
  3. mengembangkan pendidikan dan pelatihan pada anak bangsa agar dapat mempresentasikan atau mengungkapkan pikiran dan gagasan keilmuan melalui medium bahasa lisan dan bahasa tulis;
  4. mengembangkan riset untuk merespon berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dalam berbagai disiplin ilmu;
  5. Mendorong peneliti muda ke berbagai kegiatan keilmuan;
  6. Mempublikasikan hasil penelitian terbaik
  7. Menyelenggarakan pertemuan ilmiah: KOLOKIUM BERSEI

KOLOKIUM BERSERI TAHUN KE-1